Hati Adalah Cermin Yg Tak Bisa Berbohong

cermin-full1

Selengkapnya baca di http://andinirizky.multiply.com

Kagami No Hoosoku” (“Hukum Cermin”, Kiat Menyelesaikan Semua Masalah Hidup) oleh Yoshinori Noguchi.

Menurut buku ini, hidup itu cermin hati. Segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah cermin, yang memantulkan kondisi hati. Dari mana kita tahu rambut di atas kepala kita kusut, kalau tidak melihat bayangan di dalam cermin? Kalau rambut kita terlihat kusut, mana yang kita rapikan? Apakah tangan kita tergerak menyisir rambut di kepala, atau rambut di cermin? Begitu juga dengan hidup yang menjadi cermin hati. Hidup berusaha mengajari kita sesuatu, menyampaikan pantulan tentang kondisi hati. Maka kalau hidup kita terasa tidak indah, kita perlu memikirkan cara memperbaiki hati kita.

Hidup itu cermin hati. Jika hati bersyukur, kehidupan pun akan menambah peristiwa – peristiwa nyata yang membuat si pemilik hati bertambah-tambah rasa syukurnya. Jika kita tidak bisa memaafkan orang lain, kehidupan akan mengajari kita lewat peristiwa yang sepertinya tidak berhubungan- memutar balik posisi kita sebagai orang yang tidak termaafkan.

Hidup itu cermin hati. Dari kehidupan, kita bisa melihat kondisi hati kita. Peristiwa-peristiwa tidak terjadi secara acak. Masalah-masalah terjadi karena sebenarnya kita punya kemampuan untuk mengatasinya. Masalah-masalah terjadi karena hidup mengajari kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mengapa kita harus memaafkan?Dengan memaafkan kita mendapatkan ketenangan hati.Perasaaan “aku tidak bisa memaafkan dia” berarti kita menyalahkan orang atas peristiwa masa lalu. Kita tidak bisa mendapatkan ketenteraman jika hati kita terus menyalahkan seseorang. Badan menjadi tegang, jiwa bergejolak. Kalau begini terus, lahir batin kita menderita.

Kita mempunyai dua pilihan. Memaafkan atau tidak.

=========================================================================================================

Kemana ya aku mencari kedamaian buat diriku sendiri. Pepatah hidup yang aku jalankan selama ini ternyata “to live in servitude.” Hidup untuk mengabdi. Buat semua orang dekat. Keluarga. Teman dekat. Kekasih. Orang lain. Tak pernah prioritas untuk menyenangkan diri sendiri karena kebahagian orang lain juga menjadi kebahagiaanku.

Tapi kini setelah mereka bahagia dengan jalannya sendiri-sendiri, bagaimana perasaanku? Akankah aku bahagia karena mereka telah bahagia (seperti yang aku yakini selama ini), sementara diriku tidak? Apakah mereka akan bahagia dengan kebahagiaanku? Apakah ketidakbahagiaanku juga menjadi ketidakbahagiaan mereka?

Persoalan ini lebih mudah dituliskan daripada dicari jawabannya..


Advertisements

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s