Jangan Pernah Katakan Mati

mom-full

Miyuki Inoue, seorang gadis yang ketika lahir beratnya hanya 500 gram. Kepalanya sebesar telur, tubuhnya hanya sepanjang pena, pinggul sebesar jari orang dewasa dan jari-jarinya sekurus tusuk gigi. Dan sebagai bayi super premature, dia harus dimasukkan ke dalam inkubator untuk menunjang kehidupannya. Karena terlalu banyak oksigen yang dihirup dalam incubator, akhirnya dia terkena Retinopathy of Prematurity sehingga ia kehilangan penglihatannya. Buta seumur hidupnya. Inilah takdir yang diberikan Tuhan kepadanya, namun ibunya, Michiyo Inoue, yakin bahwa rencana Tuhan untuk anaknya pasti indah.

Jangan Pernah Katakan Mati

(Michiyo Inoue – Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu)

Saat itu, aku dan Miyuki bermaksud makan siang di sebuah restoran sushi. Tamu di restoran tersebut hanya seorang manula dan kami berdua. Wanita tua yang kira-kira berusia tujuh puluh lima atau tujuh puluh enam itu duduk di samping kami dan sedang berbincang-bincang dengan istri pemilik restoran. Wanita tua itu bilang begini, “Ah percuma saja kalau mau jalan-jalan. Percuma. Lututku tak kuat.”

“Tapi, yang ikut tur itu semuanya manula. Karena itu, tur itu akan dilaksanakan dalam suasana yang sangat santai. Bahkan ada acara untuk masuk pemandian air panas segala. Tak usah khawatir,” bujuk istri pemilik restoran.

“Aku punya tekanan darah tinggi. Kenapa kau bilang aku harus pergi ke tempat seperti itu. Padahal, aku kan tinggal menunggu mati saja.”

“Kok bilang begitu. Padahal kamu itu masih muda.”

“Tak ada orang yang mengerti keadaanku. Suamiku dan kakak perempuanku sudah meninggal. Bahkan aku juga tidak punya anak. Aku sudah tak bisa masak sendiri. Aku juga sudah tak ingin bersih-bersih.”

“Kalau begitu, apa saja yang kamu lakukan dalam satu hari?”

“Acara TV tak ada yang menarik. Radio terlalu berisik, makanya aku tidur terus. Hari ini ada yang datang menjemputku.”

“Oh begitu. Apa kamu tidak punya hobi tertentu, atau pergi ke acara kumpul-kumpul?”

“Kenapa harus begitu? Mendingan diam dan tidur daripada harus berbaik-baik dengan orang.”

“Kalau begitu terus, tubuhmu bisa melemah, lho.”

“Aku tidak tertarik pada apa pun. Aku malah menanti kapan tubuhku melemah lalu mati. Setiap hari aku tidur terus. Aku bahkan tidak membuka pintu dan hanya menunggu orang yang akan datang menjemput.”

Akhirnya, istri si pemilik toko pun terdiam.

Sementara itu dari tadi miyuki mendengarkan dalam diam. Mungkin karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya Miyuki pindah ke satu bangku di sampingnya, lalu berkata, “Maaf, selamat siang. Anu, maafkan kalo aku tidak sopan, tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

Wanita tua itu tampak terkejut saat melihat Miyuki yang buta. “Astaga, rupanya kamu tidak bisa melihat ya?”

“Dari tadi aku mendengarkan pembicaraan Nenek. Kalau Nenek hanya berpikir yang buruk-buruk seperti itu terus, maka nenek tidak akan pernah mengetahui kebahagiaan. Aku memang tidak bisa melihat, tapi aku mau pergi keluar dan menikmati hidup. Nek, cobalah untuk hidup dengan menatap masa depan.” Miyuki mengatakan permintaannya itu dengan suara tinggi.

“Astaga.”

“Kalau Nenek hanya diam saja di rumah, tentu Nenek akan memikirkan hal yang buruk saja. Sebenarnya, menyenangkan lho, kalau nenek mau jalan-jalan keluar, atau berbelanja, berolahraga, ataupun berteman dengan orang-orang dari berbagai tempat.”

Wanita tua itu tampak terkejut dengan semangat Miyuki. Matanya bahkan tampak berbinar-binar. Setelah berpikir untuk beberapa saat, dia berkata, “Duh, tak pernah ada orang dekat yang bicara seperti ini kepadaku. Terima kasih ya, Nak.”

Miyuki merasa lega. Tekanan dalam suaranya berkurang. “Tidak baik tidur terus dalam sehari. Walaupun tidak bisa melihat, aku suka sekali dengan TV atau jalan-jalan.”

Wanita tua itu menatap Miyuki lekat-lekat. “Berapa umurmu? Apakah kamu pergi ke sekolah?”

“Umurku enam belas tahun. Aku bersekolah di SLB A Lanjutan Atas Fukuoka. Oh ya, namaku Miyuki”

“Apa? Kamu pergi sampai ke Fukuoka?”

“Aku turun di Stasiun Asakura Gaido. Dari sana naik bis. Lalu berjalan lagi sampai tiba di sekolah.”

“Kamu pergi sendirian?”

“Ya.”

“Miyuki, kamu berusaha keras walaupun cacat. Aku tidak percaya kalau aku dimarahi olehmu yang sebenarnya sebaya dengan cucuku. Aku mengerti sekarang. Hari ini, sepulang dari sini, akan kubuka jendela kamarku, akan kubersihkan rumah, dan aku akan bersemangat. Kamu sudah khawatir dengan keadaanku.”

“Tolong jangan bilang mati, ya Nek.”

“Iya, ya. Aku jadi bersemangat karena bertemu denganmu, Miyuki.”

“Ah, syukurlah kalau begitu.”

Wanita tua itu mengucapkan terima kasih berkali-kali lalu pulang.

“Kau hebat Miyuki. Padahal tak ada seorangpun yang bisa mengubah pola piker nenek itu,” kata istri si pemilik restoran.

Miyuki menjawab dengan berseri-seri, “Karena itulah!”

Anak ini rupanya benar-benar serius memikirkan orang lain. Cocok sekali jika dia bekerja merawat orang jompo. Dia serius sekali dengan cita-citanya.

Jika mampu bekerja merawat orang jompo, tentu dia akan berpikir keras serta menggunakan segenap hati untuk membantu orang-orang itu.

Mungkin aku sudah menemukan cara baru dalam membesarkan Miyuki. Meskipun demikian, apakah Miyuki mampu bekerja seperti tu? Dia buta. Lagi lagi aku mengkhawatirkan masa depannya.

Sekarang Miyuki berumur enam belas tahun. Dia sudah duduk di kelas satu SMA, sama seperti anak-anak normal lainnya. Dia suka sekali mendengarkan acaranya Hiroshi Ikujima di radio yang diputar pagi-pagi sekali. Dia suka acara film suspense pada hari selasa, dimana orang-orang jahat ditangkapi. Dia juga suka berbincang-bincang dengan teman kapan saja. Sungguh tidak berbeda dengan anak-anak muda masa kini.

Di rumah kami ada komputer. Komputer khusus tuna netra yang akan mengeluarkan suara saat keyboardnya ditekan. Miyuki amat menyukai komputer tersebut dan senang sekali mengetik.

Dia akan berkirim email,kemudian membuat data. Dia bahkan mempunyai mimpi untuk memiliki situs pribadi. Di sekolah, dia belajar kesusastraan Jepang kuno dan kimia, walaupun sulit.

Aku tidak perlu menjadi guru privat yang mengajarinya ini dan itu. Aku hanya membuatkan makanan lezat dan memperhatikannya. Pekerjaanku bertambah menyenangkan. Mulanya aku hanya bekerja sebagai pembuat makanan di rumah sakit yang letaknya tak jauh dari rumah. Akan tetapi, aku diangkat menjadi karyawan tetap. Senangnya.

Baru-baru ini, guru kepala Hanada menerima telpon dari orang yang melihat acara documenter mengenai Miyuki di televisi.

“Tolong sampaikan kepada ibunya Miyuki supaya jangan marah-marah lagi kepada Miyuki,” katanya sambil menangis. Rupanya dia benar-benar mengkhawatirkan Miyuki.

Aku berpikir, ingin rasanya lepas dari bayang-bayang seorang ibu yang kejam seperti setan. Aku ingin membesarkan Miyuki menjadi manusia yang hebat. Karena itu aku melupakan fakta kalau dia buta dan akhirnya malah bersikap keras.

Akan tetapi ada juga sesuatu yang akhirnya tampak olehku setelah keadaan keluarga ini diperkenalkan apa adanya. Bukan sesuatu yang wajar seperti bagaimana aku sebagai orang tua membesarkan anak, tetapi juga pertemuan kami dengan orang-orang yang juga turut membesarkan Miyuki.

Perlahan-lahan, dunia Miyuki semakin melebar. Dia bertemu dengan begitu banyak orang dan diajari segala sesuatu. Sebagai orang tua, tentunya aku hanya bisa berdoa supaya mimpi Miyuki bisa menjadi kenyataan. Mulai saat ini, sebagai pelabuhan Miyuki, aku hanya bisa membuatkan tempat yang hangat untuknya. Aku mengerti itu.

Walaupun demikian, ini adalah aku yang sering bertengkar dengan Miyuki dan kadang-kadang memarahinya. Namun, anak tumbuh dengan cepat. Begitu sadar, mungkin akan tiba-tiba hari dimana Miyukilah yang mengajari atau memarahiku.

Sambil menunggu tibanya hari itu dengan senang hati, aku dan Miyuki masih ingin terus tumbuh. Aku berpikir untuk mengetahui lebih banyak lagi mengenai diri kami masing-masing. Hei Miyuki, tolong bantu Ibu ya.

=========================================================================================================

Ibu, aku akan berjuang sekuat tenagaku! Doain ya bu 🙂 Anakmu yang bandel :  -Gembul-

Advertisements

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s