Game Creator’s Mom

mom-kiss-full

Bu Andin (http://andinirizky.multiply.com) : nak gembul, tetep brusaha mnyebarkan informasi dengan cara dan gaya khasmu ya nak. Btw ibu ada artikel bagus. Dijamin kamu bakal terharu & kangen ma ibu kamu 🙂

Gembul si anak bejat : Mana bu, coba saya baca…(baca baca baca..). Ah crita ginian doank. Paling yang sok mnguras air mata gitu kan bu (semakin dibaca).. ehmm.. glekk.. glekk.. hiks hiks…. ibuku…. (usap air mata terus bergaya sok cool lagi)

Bu Andin : Haha. Ojo bandel karo wong tuwo yo le 🙂

============================================================================

Di layar TV, seorang bapak, bersama seorang temannya, sedang diwawancarai reporter acara variety.

“Apakah ada e-mail yang Anda simpan agar tidak terhapus di telepon genggam Anda?”

Bapak itu, yang agak gemuk dan berkacamata, tersenyum lebar, ketika menjawab, “Ada. Dari ibu saya.”

Ia mengutak-ngutik sejenak telepon genggamnya, lalu memperlihatkan layar telepon ke arah kamera.

“Ini dia,” katanya.

Isi e-mail, “Takkun, apa kabar? Ibu sudah membeli software game yang ada namamu. Saat ini ibu belum membeli mesin game untuk memainkannya. Nanti kalau sudah punya, ibu akan mengabari lagi.”

Rupanya si bapak adalah seorang pembuat game. Nama si pembuat game akan muncul pada credit roll jika pemain sudah berhasil mengalahkan musuh terakhir, musuh yang paling kuat.

Credit roll tidak akan terbaca sampai ibu saya menang babak terakhir.”

“Pasti lama baru bisa terbaca namamu, ya,” kata temannya menanggapi. “Kan susah sekali menang sampai babak terakhir.”

Mereka tertawa geli membayangkannya.

Gambar berpindah pada seorang wanita yang menghadap sebuah televisi di dalam rumah. Di layar televisinya tampak animasi permainan game. Yang lucu, rupanya bukan game biasa yang dimainkan dengan controller, tetapi game model terbaru, yang pemainnya harus menggerakkan tangan dan kaki untuk menggerakkan tokoh di layar. Maka si ibu, yang sudah uzur, dengan serunya meninju dan menendang di depan televisi.

Sambil tertawa-tawa, si ibu berkata,“Tunggu saja, Takkun. Ibu berjuang setiap hari. Ibu tidak akan menyerah sampai bisa membaca namamu.”

Duh, cinta ibu.

Di depan TV, saya tidak tahu harus tertawa atau bersimbah air mata.

=========================================================================================

Advertisements

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s