Anak Saya Bukan Jenius!

bukan-jenius-full

Miris rasanya membaca postingan di blog Bu Andini yang saya kutip di bawah ini. Soalnya sedikit banyak saya sendiri mengalaminya sendiri. Saya smpet stress ketika menempuh masa2 sekolah lanjutan (baik tingkat pertama maupun tingkat akhir). Memang, seperti inilah potret buram pendidikan di Indonesia. Dipaksa menelan mentah-mentah sekian banyak bahan pelajaran yang sejujurnya, justru tidak akan dipergunakan, baik sebagian maupun seluruhnya di kemudian hari (ga semua pekerjaan butuh ilmu fisika nuklir ato kalkulus integral kan?)

Teringat pengalaman saya sendiri, waktu SMA dulu (SMA 1 Jogjakarta yang kata orang2 favorit, walopun sampai sekarang sebagai alumni, saya sendiri ga tau segi favorit SMA sialan ini ada dimana), apresiasi terhadap “anak-anak berprestasi” cuma diberikan kepada mereka-mereka yang juara olimpiade matematika, fisika, ekonomi atau akuntansi. Bagaimana dengan anak2 pemerhati seni? Juara lukis misalnya? Atau mungkin juara modif TAMIYA? Anak2 sanggar tari yang  memukau turis2 asing di Kraton Jogjakarta tapi tidak mendapat respek dari pihak sekolahan sendiri?

Sekolah saya dulu itu justru jadi ajang politik praktis. Boikot Israel. Ganyang McDonald. Haramkan Valentine. Hancurkan kapitalis. Huuu. Sekolah pada ga becus tapi klo disuruh yang gituan paling kenceng teriaknya. Ironisnya mereka yang teriak2 itu sepatunya Adidas. Pake laptop HP & IBM. Buatan kapitalis tuh, ga nyadar? Woi teman2ku seangkatan yang dulu besar mulut & triak2 hal-hal diatas dengan koar-koar? Dimana kalian sekarang? Ikutan perang di luar negeri? Masih idup? Jadi apa kalian sekarang?

=====================================================================================

SUARA PEMBARUAN DAILY

Surat Terbuka kepada Mendiknas:

Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius!

Oleh : Trisno S. Sutanto

BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah melayangkan surat ini ke lembaga Bapak. Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh orang yang penting, melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah yang merasa prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar kemungkinan Bapak tidak akan menerima surat ini. Atau, kalau toh Bapak menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak bersedia membacanya.

Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini “surat terbuka” yang dapat dibaca oleh semua orang, khususnya para ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi pada anak saya lebih kurang dapat juga dirasakan pada anak-anak seusianya.

Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang cukup terpandang di daerah Jakarta Timur. Akan tetapi semenjak dua-tiga bulan terakhir, kata “sekolah” dan “belajar” baginya telah menjadi hantu yang sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei lalu, tepat pada “Hari Pendidikan Nasional”, misalnya, anak saya menyatakan mogok pergi ke sekolah. Alasannya sederhana: “Aku benci sekolah!” Sebagai orangtua, saya memang dapat memaksa agar dia tetap pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, model pemaksaan seperti itu tidak akan memecahkan persoalan. Jadi saya membiarkan ia tidak pergi ke sekolah, dan menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah.

Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya sebagai orangtua. Pertama-tama dia berkeluh kesah tentang begitu banyak mata pelajaran yang harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia tahu untuk apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata “telan mentah-mentah” sengaja saya pilih, karena hanya itulah padanan yang paling tepat bagi system pengajaran yang (masih terus) mengandalkan pada “hafalan mati” –  walau pun sudah begitu banyak kritik pedas ditujukan pada sistem seperti itu.

Standar Kurikulum

Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan “otonomi khusus” masing-masing sekolah. Akan tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agar tidak dinilai “ketinggalan” dari sekolah-sekolah “favorit”. Apalagi, dalam system KBK, faktor pendidikan guru sebagai “fasilitator” (perhatikan: bukan sebagai guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan!) akan sangat menentukan. KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu pengetahuan yang terbuka, seperti internet, fasilitas perpustakaan, lingkungan yang memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah mata pelajaran tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua asumsi itu, pada praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah pada umumnya. Alhasil, sistem “telan mentah-mentah” kembali merajalela.

Mari! saya beri contoh konkret. Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling tidak harus “menelan” 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan khas daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta – untuk siswa di Jakarta). Itu berarti, setiap siswa harus “menelan mentah-mentah” setidaknya 15 buku – saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! – untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung anak saya, bukan saja jumlah mata pelajarannya sangat banyak, tetapi juga kandungan masing-masing mata pelajaran sangat rinci, dan karena itu terlalu berat bagi seorang siswa SLTP kelas II. Ini mudah dicermati jika Bapak Menteri sempat meme-riksa buku-ajar standar yang dipakai di sekolah-sekolah kita. Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki waktu cukup untuk memeriksa dengan cermat isi

buku-ajar itu. Jadi, izinkan saya memberi contoh yang saya petik secara acak dari buku-ajar anak saya.

Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan mampu memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. Dan, masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi. Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian, asas, landasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan peran, macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang terkait! Dan, subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan negara dalam kehidupan ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD, jenis-jenis pajak, bagaimana menghitung pajak, dan peraturan yang terkait) sampai tahap-tahap pembangunan jangka panjang (Pelita I sampai Reformasi). Hal yang sama juga terjadi dalam mata pelajaran lain. Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa diharapkan memahami mulai dari system pencernaan (manusia dan hewan), sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transporta! si (manusia dan hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya.

Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara Diapedesis dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda tahu Globmerulus dan di mana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan antarsel saraf (mana bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan seterusnya. Karena itu, tidak heran jika seorang dosen biologi di sebuah universitas berkomentar, “Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi yang perlu diajarkan

di Universitas?”

Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk siswa yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri? Seorang siswa SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati pasal-pasal mana dalam KUHP yang dipakai untuk menghukum “perkelahian pelajar secara per orangan yang mengakibatkan satu pihak luka atau mati”, pasal-pasal mana untuk “perkelahian pelajar secara berkelompok”, dan pasal-pasal mana yang dipakai jika “pelajar menyerang guru”!

Juga, jangan lupa, pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika “pelajar mabuk-mabukan, minum-minuman keras”, atau jika terjadi “pemerasan oleh pelajar”, atau “pencurian di kalangan pelajar”, atau “pelajar membawa senjata api atau senjata tajam”.

Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci beban mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat ia pergi ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan kelas. Menurut saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung semua beban itu tanpa masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan jujur, anak saya bukan anak yang jenius, seperti juga anak-anak pada umumnya.

Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif anak sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki cara lain kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah! Jangan

Tanya, Hafal Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal ulangan umum. Mungkin di permukaan, cara itu kelihatannya berhasil. Tetapi, jika dipandang dari sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah gagal total! Kita telah ikut berpartisipasi menjadikan kata “sekolah” dan “belajar” momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak didik – mereka yang akan menggantikan kita di masa depan.

Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan anak jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius! *

Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

=====================================================================================

Advertisements

4 comments on “Anak Saya Bukan Jenius!

  1. Pingback: BRAINVIT

  2. cara plg jitu(baca:bodoh) yaaa HAFALKAN saja!! itu prinsip(konyol) yg kujalankan btahun2 slm skolah. Tujuannya cm satu yaitu JUARA KELAS. Smp akhirny tdampar dsebuah uni diyogya. Lagi2 prinsip itu kmbali mlekat dgn tujuan ya apalagi klo bkn LULUS CEPAT n CUMLAUDE. Dlu kupikir dunia akn terasa sempurna klo smw itu tcapai dan itu kunci utk mraih kursi empuk digedung2 btingkat dibilangan sudirman. Tp nonsense! Smw itu cm hny mencetak lulusan sarjana dgn otak KOSONG meski dgn nilai sempurna diselembar kertas… Ah mnyesal mmg slalu belakangan.

    • “Lagi2 prinsip itu kmbali mlekat dgn tujuan ya apalagi klo bkn LULUS CEPAT n CUMLAUDE. Dlu kupikir dunia akn terasa sempurna klo smw itu tcapai dan itu kunci utk mraih kursi empuk digedung2 btingkat dibilangan sudirman. Tp nonsense!”..

      ehm ehm ehm.. di belahan dunia yg lain, ada kok yang ngga lulus cepat, apalagi mimpi buat cumlaude. hehe. bisanya cuma cum loud 😀

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s