Amare est gaudere felicitate alterius

newday full

“Jangan dikira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun. Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad (Gibran).”

Amare est gaudere  felicitate alterius – mencintai adalah mengupayakan kebahagian orang yang dicintai”.

Ditengah-tengah matra pascamodern yang hiruk pikuk, ditengah kondisi horror yang mengiris-iris luka masyarakat, ditengah-tengah bisik-bisik politik di parlemen, ditengah kompetisi gosip sinetron antartetangga di sebuah kampung miskin, di tengah sekumpulan anak muda sedang cekikikan di bawah  temaram lampu sebuah tempat perkumpulan merayakan pesta telanjang, masihkah ada cinta? Tepatnya, di manakah cinta? Lebih tepat lagi, dalam bentuk apa cinta itu dimanifestasikan?

Tentu saja cinta masih ada, sebab cinta seusia dan setua peradaban manusia. Selagi manusia masih ada dan berkumpul serta bermasyarakat, maka saat itu pula cinta selalu ada dan berpaut. Kehidupan cinta selalu mengikuti garis edar waktu, melintasi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, millennium dan sampai waktu dihentikan sendiri oleh sang pemilik waktu dan pemilik cinta. Mungkin kiamat. Tapi, cinta ditemui dalam bentuk apa?

Bila ia seorang pemuja erotisme, maka cinta baginya tak lain adalah sudah berapa lelaki atau perempuan yang ia kencani. Sudah berapa jenis pinggul dan pantat yang ia gauli. Sudah berapa pasang buah dada dan bulu ketiak yang ia remas. Sudah berapa jenis paha dan kelamin yang ia telusuri. Cinta adalah aktivitas sex. Begitu saja kelaminnya menegang, begitu saja seluruh tubuhnya menghangat, begitu saja aliran darahnya mengalir dengan deras, begitu saja pinggulnya bergoyang, tenggorokannya berserak lirih dan sekujur tubuhnya meneteskan keringat. Begitulah cinta baginya. (Tahan sobat, ini bukan cerita stensilan :p)

Continue reading

Advertisements

Adikku-Miyoko Matsunani

cermin full

Judul : Adikku – Naskah: Miyoko Matsutani – Gambar: Keiko Ajito – Penerbit: Kaiseisha – Terbit Desember 1987 (jadul tapi kisahnya membekas di hati) – Disadur dari andinirizky.multiply.com (ijin ya bu 🙂 hidup homeschooling!) – Potret Buram Pendidikan Konvensional yang kaya akan perilaku Bullying! Dari dulu sampai saat ini selalu memakan korban jiwa dan mental yang membekas!

Anak ini, adik perempuanku. Ia menghadapkan punggungnya padaku, tidak mau berpaling. Dengarkanlah, cerita tentang adikku. Tujuh tahun lalu dari sekarang, kami pindah ke kota ini. Kami naik di atas truk, bercanda riang, sambil menjilat es lilin. Adikku kelas 4 SD. Tetapi, di sekolah baru, penggencetan yang menakutkan itu mulai terjadi.

Adikku ditertawakan, katanya bahasanya aneh. Diejek, waktu tidak bisa melampaui balok lompat. Dihina, dijuluki pembuat malu bagi seluruh kelas. Dikatai bau, babi. Padahal, ia sama sekali bukan anak yang jorok.

Kalau adikku bertugas membagikan lauk makan siang, mereka tidak mau mengambil. Lama kelamaan, tidak seorang pun yang mau berbicara padanya. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu.

Ketika acara piknik sekolah, adikku dibiarkan seorang diri. Akhirnya, adikku tidak mau pergi ke sekolah.
Tidak mau makan, tidak mau bicara, ia hanya duduk diam, memandang jauh entah ke mana. Uluran tangan dokter pun ditepisnya. Tetapi, waktu itu, kami menyadari banyak luka bekas cubitan di sekujur tubuhnya. Badannya menjadi kurus lemah. Kata dokter, jika dibiarkan, nyawanya dalam bahaya.

Ibu sekuat tenaga, menyuapkan sup ke bibir yang tertutup rapat-rapat. Ibu memeluknya erat-erat, tidur bersamanya, menyanyikan lagu ninabobo untuknya. Nyawa adikku terselamatkan. Kemudian, hari-hari berlalu dengan lambat. Anak-anak yang mengganggu adikku menjadi pelajar SMP, pergi sekolah dengan seragam pelautnya. Sambil bercanda, sambil memutar-mutar tas sekolah.

Tetapi adikku mengunci diri di kamar. Ia tidak membaca buku, juga tidak mendengarkan musik. Ia hanya diam, memandang entah ke mana. Ia tidak mau berpaling. Kemudian, lagi-lagi bulan tahun berganti, anak-anak itu menjadi pelajar SMA. Mereka pergi melewati jalan di luar jendela. Sambil tertawa, sambil bercerita….

Saat itu, adikku mulai melipat kertas. Bangau merah, bangau biru, bangau putih. Kamarnya dipenuhi bangau kertas. Tetapi, ia tidak mau berpaling, tidak mau bicara. Ibu sambil menangis, melipat kertas di kamar sebelah. “Jika melipat burung bangau, rasanya Ibu jadi mengerti perasaan anak itu…” Aaah… rumahku rumah bangau. Aku berjalan di lapangan rumput. Duduk di atas rumput, entah sejak kapan, aku juga melipat bangau kertas.

Suatu hari, adikku meninggal dalam diam. Aku menciduk burung bangau kertas dengan telapak tangan, lalu memasukkannya bersama bunga-bunga ke dalam peti jenazah. Cerita tentang adikku, hanya sampai di sini.

Continue reading

Flashback Stories

full zara

CURHAT SAHABAT – IT’S A FLASHBACK STORIES

Written by Bobo, Typed by Gembul on  January 5th, 2009 :

“Emang cuma kamu aja yang paling sayang sama aku”. Begitu yang Bobo baca tadi. Ambigu. Bobo terhenyak, mencoba mengurai makna pesan singkat tersebut. Alangkah membingungkannya isi pesan Bilbil itu. Baru semalam ia bermulut manis, mencoba mencairkan suasana kaku dengan Bobo yang kini serasa dingin. Ucapan terima kasih dialirkan dari bibir Bilbil atas perhatian Bobo meskipun setahun genap peristiwa menyakitkan telah dialami Bobo. Namun beberapa jam kemudian, lagi-lagi Bobo terbingung. “Apalagi ini?”, begitu pikirnya.

“Tak tahukah Bilbil itu jika aku tengah dilanda gundah gulana. Ketidakpercayaan. Rasa amarah yang menyentuh ubun-ubun? Yang disayangkan, Bilbil seperti asik dengan masalahnya sendiri. Sempat Bobo berkeluh kesah dan meminta saran kepada Bilbil. Tapi yah, itulah Bilbil. Mana mau dia peduli & care ma masalah orang lain. Cerita yg merupakan rahasia terdalam pun hanya didengarkan tanpa kesan. Si Bilbil juga bukan teman curhat yang baek. Heran aja orang-orang suka curhat ma dia. Apa bagusnya sih?

“Aku mengasihimu Bo. Ga akan berubah,” kata Bilbil suatu waktu. “Gombalmu, cuk,” timpal Bobo dalam hati. Kayanya udah muak banget si Bobo ini.

Kenapa Bilbil begitu egois. Begitu pelupa. Pada semua yang sudah aku berikan, pikir Bobo. Buah tangan. Perhatian. Rasa. Bobo bermuram durja. Ia makin kehilangan. Kehilangan teman. Sahabat. Cinta. Bilbil mengejar kebahagiaannya sendiri. Dengan mengorbankan Bobo. Bobo yang dulu sayang sama Bilbil. Ia bertanya demikian egoiskah Bilbil  tersebut. Dulu menyuruh Bobo pergi dari kehidupannya (kalimatnya gini, “Plis Bo, kalo lu sayang gw, tolong  jangan ganggu idup gw lagi”) sementara sekarang ia berusaha mengontak Bobo lagi. Maksudnya apa? Sial bener si Bobo klo dia dianggep bahan ngelaba doank. Emangnya Bobo cowok apaan? Bobo kan pria baik-baik. Mental Bobo ga sama kaya mental Bilbil. Bobo merasa Bilbil suka plin-plan, suka munafik & curi-curi kesempatan.

Bobo tahu pasti, Bilbil terkadang tidak konsisten. Labil. Sekarang ia berbicara demikian manis, besok hari mungkin ia akan menghancurkan hati. Jika kemarin ia meluluhlantakkan pikiran dan menghabiskan tenaga, maka di kemudian hari ia akan memberikan dukungan dan limpahan semangatnya. Membingungkan.

Bukankah Bilbil tersebut sudah memiliki orang lain? Kenapa ia masih mengharapkan perhatian Bobo yang sudah ia hancur leburkan hatinya tersebut? Mengharapkan perkataannya. Mengharapkan waktunya. Kini karena telat membalas pesan singkat Bilbil semalam, Bilbil menjadi murka dan menyakitinya lagi. Lagi-lagi lewat pesan singkat. Sms. Kepengecutan di jaman seluler..

=====================================================================================

Gemabuluk The Psycho Psychiatrist says :

Ok Bobo. Saya tau cerita pedih anda. Mungkin dulu anda demikian geramnya kepada Bilbil, saya yakin itu. Masalahnya anda merusak mental diri anda sendiri, Bo. Apa yang menjadi obat untuk anda? Lupakanlah. Lupakan amarah anda. Lupakan kebencian anda. Caranya? Lupakan Bilbil. Jangan masukkan dia dalam agenda hidup anda lagi. Saya kurang tahu track record anda dengan Bilbil bagaimana, namun solusi umumnya ya itu tadi. Jika anda berkubang dalam lumpur masa lalu yang menyakitkan, maka tinggalkanlah kubangan lumpur itu. Anda tidak mau penyakitan seumur hidup kan?

Friedrich Nietzche The Philosopher says :

Dalam cinta seorang perempuan terdapat ketidakadilan dan kebutaan terhadap semua yang tidak ia cintai. Dan di dalam cintanya yang tercerahkan pun, masih ada kejutan yang tak terduga-duga, petir dan malam, datang bersama-sama dengan cahaya.

Continue reading

Racun Facebook-holic

q full

Facebook? Penemuan bagus. Facebook-holic? Hell! Orang-orang pada seneng nyocot-nyocot & dicocotin ga mutu di facebook. Ga penting banget. Daripada elo-elo ngabisin waktu cuma buat komen ga penting ke status orang-orang, mending lo bikin web skalian. Web itu kotak aspirasi. Tunjukin idealisme elo-elo, yang barangkali, berkesempatan mengubah dunia pembaca. Slaen itu, ngeblog ato bikin web bisa bikin lo kliatan lebih intelek daripada bisanya cuma macebook yang (in)telek.

Ada juga yang pacaran di facebook. Najes banget. Sempet2nya. Kasian banget lo. Cuma bisa omong gede pake ketikan tombol keyboard. Dasarnya elo-elo cuma mau pamer ke orang2 kan? Kalo lo-lo bisa ktemuan & jalan ma yayang lo, ngapain pake kopi darat segala? Kasian deh lu. Ngebuka aib kalo lo-lo kurang kasih sayang. Haha. Bner kalo gw bilang sifat dasar manusia facebook-holic itu cuma pamer & jadi exhibitionist. Sori, no offense… just defense hahaha.

Orang-orang (Indonesia terutama) kok ga kepikiran buat nemu & bikin penemuan hebat kaya Mark Zuckerberg dan Facebooknya ini ya? Mungkin muluk kali yak lo ngebikin. Ya, paling ga ngobrolin kehebatan sistem Facebook yang multifungsi & memukau banyak orang ini aja lah. Semuanya sebatas user. Ga pada antusias buat tau, bahkan belajar sistem hirarkinya facebook yang dikasi nama The Cathedral & The Bazaar ama Mark? Ya itulah orang indon. Mental groupies. Ga tertarik untuk ngebahas sistem dibalik pembuatan jejaring pertemanan popular itu. Sekali lagi, bisanya jadi user.

Continue reading