Adikku-Miyoko Matsunani

cermin full

Judul : Adikku – Naskah: Miyoko Matsutani – Gambar: Keiko Ajito – Penerbit: Kaiseisha – Terbit Desember 1987 (jadul tapi kisahnya membekas di hati) – Disadur dari andinirizky.multiply.com (ijin ya bu 🙂 hidup homeschooling!) – Potret Buram Pendidikan Konvensional yang kaya akan perilaku Bullying! Dari dulu sampai saat ini selalu memakan korban jiwa dan mental yang membekas!

Anak ini, adik perempuanku. Ia menghadapkan punggungnya padaku, tidak mau berpaling. Dengarkanlah, cerita tentang adikku. Tujuh tahun lalu dari sekarang, kami pindah ke kota ini. Kami naik di atas truk, bercanda riang, sambil menjilat es lilin. Adikku kelas 4 SD. Tetapi, di sekolah baru, penggencetan yang menakutkan itu mulai terjadi.

Adikku ditertawakan, katanya bahasanya aneh. Diejek, waktu tidak bisa melampaui balok lompat. Dihina, dijuluki pembuat malu bagi seluruh kelas. Dikatai bau, babi. Padahal, ia sama sekali bukan anak yang jorok.

Kalau adikku bertugas membagikan lauk makan siang, mereka tidak mau mengambil. Lama kelamaan, tidak seorang pun yang mau berbicara padanya. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu.

Ketika acara piknik sekolah, adikku dibiarkan seorang diri. Akhirnya, adikku tidak mau pergi ke sekolah.
Tidak mau makan, tidak mau bicara, ia hanya duduk diam, memandang jauh entah ke mana. Uluran tangan dokter pun ditepisnya. Tetapi, waktu itu, kami menyadari banyak luka bekas cubitan di sekujur tubuhnya. Badannya menjadi kurus lemah. Kata dokter, jika dibiarkan, nyawanya dalam bahaya.

Ibu sekuat tenaga, menyuapkan sup ke bibir yang tertutup rapat-rapat. Ibu memeluknya erat-erat, tidur bersamanya, menyanyikan lagu ninabobo untuknya. Nyawa adikku terselamatkan. Kemudian, hari-hari berlalu dengan lambat. Anak-anak yang mengganggu adikku menjadi pelajar SMP, pergi sekolah dengan seragam pelautnya. Sambil bercanda, sambil memutar-mutar tas sekolah.

Tetapi adikku mengunci diri di kamar. Ia tidak membaca buku, juga tidak mendengarkan musik. Ia hanya diam, memandang entah ke mana. Ia tidak mau berpaling. Kemudian, lagi-lagi bulan tahun berganti, anak-anak itu menjadi pelajar SMA. Mereka pergi melewati jalan di luar jendela. Sambil tertawa, sambil bercerita….

Saat itu, adikku mulai melipat kertas. Bangau merah, bangau biru, bangau putih. Kamarnya dipenuhi bangau kertas. Tetapi, ia tidak mau berpaling, tidak mau bicara. Ibu sambil menangis, melipat kertas di kamar sebelah. “Jika melipat burung bangau, rasanya Ibu jadi mengerti perasaan anak itu…” Aaah… rumahku rumah bangau. Aku berjalan di lapangan rumput. Duduk di atas rumput, entah sejak kapan, aku juga melipat bangau kertas.

Suatu hari, adikku meninggal dalam diam. Aku menciduk burung bangau kertas dengan telapak tangan, lalu memasukkannya bersama bunga-bunga ke dalam peti jenazah. Cerita tentang adikku, hanya sampai di sini.

(Tulisan surat yang ditinggalkan adik) : Mereka yang mengganggu aku, pasti sudah melupakanku ya. Padahal aku masih ingin bermain… padahal aku masih ingin belajar….

=====================================================================================

Advertisements

2 comments on “Adikku-Miyoko Matsunani

  1. he..he menakutkan ya bullying di sekolah. Harusnya sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. Tiap hari kecuali minggu, kita harus datang ke tempat itu. Harusnya menyenangkan.

    Wah jadi ingat waktu SMP, aku juga sedikit ngalamin bullying he..he..he

  2. bner ji. aq yo ngalamin. nek ktemu sekarang, pengen tak tongseng itu orang-orang hehe. belum tau dia. si gembul bandar tongseng hehe.

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s