Berkutat dengan GVIM

Beberapa hari ini saya berkutat dengan text editor GVIM (VIM yang dibuat untuk X Window Gnome – because saya pake Jaunty), terinspirasi oleh tulisan bro Aji. Akhirnya berkubang juga saya untuk urusan VIM-VIM-an ini.

Apakah VIM itu? VIM itu versi upgrade dan penambahan beberapa fitur baru dari text editor bawaan UNIX, Vi. Makanya disebut VIM (Vi IMproved). Apakah text editor itu? Apakah sama dengan word processor? Jawabnya: beda.

Word processor digunakan untuk mengatur layout text atau positioning pada saat text tersebut akan dibaca softcopy-nya ataupun dicetak (print-out) nantinya sehingga hasilnya akan rapi, mudah dibaca dan mudah dimengerti oleh orang lain. Sedangkan text editor adalah tool simpel yang hanya digunakan untuk memasukkan text. Segala jenis typesetting dan pengaturan layout dianggap sekunder oleh text editor, karena fungsi dasarnya adalah text inputing.

Contoh Word Processor adalah MS Word, WordPerfect, Amipro dan sebagainya. Sedangkan contoh Text Editor antara lain Emacs, Crisp, Brief juga sang legendaris, Notepad dan teman-temannya yang lain (^_^) Hasil setelah berkubang dengan GVIM? Puyeng. Ngetiknya lari kemana-mana. Teksnya nyebar ga rapi. Haha.

Salah satu fitur bagus dari VIM adalah multiple window. Jika kita ga tau command tertentu, bisa kita lihat sembari kita mengetikkan teks, misalnya pada screenshot dibawah, panel window atas untuk VIM FAQS, yang tengah untuk help commands dan window paling bawah, tentu saja, untuk menginputkan teks tulisan.

Setelah dilanda pusing-pusing, saya maen-maen bentar ama desktop saya, utak-atik tampilannya plus nambahin widget biar tampilan layaknya dashboard Mac Os X Leopard. Notes-notes sebagai reminder saya pasang, kemudian mulailah saya ngisi notes itu. Merah  muda untuk mood, hijau untuk life & philosophy, kuning untuk education & skill. Mulailah saya curhat bombai ga jelas & ga mutu disana (^_^)

Abis itu, lanjut GVIM lagi… Puyengnya belum ilang.. latihan menjauhi mouse dulu.. untuk saat ini (^_^) Mau pake vim? Download aja disini

Spesial untuk Ubuntu-user, silahkan cari GVIM di repositori. Udah tersedia kok (^_^)

Advertisements

4 comments on “Berkutat dengan GVIM

  1. Bro, belajarnya darimana? Dari tutorial di vim?
    Lebih enakan versi pdf-nya bro. Nyari vimbook-OPL.pdf . Baca yang bab-bab awalnya tentang basic editing. Aku juga sempat baca dari situ. Juga baca tutorial di internet, banyak kok.

    Di vim perintahnya bisa alfabet karena mode-nya dibedain. Saat di mode perintah, baru kita masukin huruf-huruf sebagai perintah. Jika masuk di mode input, baru huruf-huruf yang kita masukkan tidak dianggap sebagai perintah, tetapi inputan. Untuk pindah ke mode perintah, ESC ditekan. Sedangkan untuk pindah ke mode inputan dari mode perintah, ditekan i untuk meletakkan cursor di belakang cursor saat ini. Atau menekan a untuk meletakkan cursor di depan cursor saat ini.

    Untuk isu vim ini, kata-katanya tidak di-wrap ke baris berikutnya, kalau tidak menekan Enter (ganti baris), ini juga terjadi pada aku bro. Jadinya, aku satu paragraf itu berisi baris yang panjang. Baru ganti paragraf, aku menekan enter. Kalau nggak gini, hasil di wordpress jadi nggak rata bro. Supaya tidak panjang ngelihatnya, aku kecilkan window-nya vim. Ini isu yang mau aku cari solusinya.

  2. Eh, ralat. Itu tutorial di Vim bagus juga ding :D. Yang nulis bram moleenar soalnya, pemrogram Vim sendiri. Ternyata kamu sudah manfaatin multiple window-nya ya untuk belajar. Wah keren Gem ….

  3. wuah gile si bro ini. baru aja aq ngaso setelah posting dah direply hehe. sip markosip ji. okeh lah. thanks for the tip 🙂 download dulu yang versi pdf ah 🙂

    iya nih ji. aq belum bisa lepas sepenuhnya dari mouse. masih klak-klik. ngetik sebelas jari pula ki. mode perintah ni yang kaya set paste etc itu kan ya? setnya keblok warna merah, pastenya keblok warna kuning dst. klo pake view default ga kliatan, makanya aq ganti pake color themes “desert”.

    oia ji nek tiap buka vim baru, knapa windownya color themesnya balik ke default ya? ada caranya ga biar tetep “desert”?

  4. pake .vimrc gak bro? Itu file konfigurasinya vim. Segala macam setting ditulis di file itu. Kayak aplikasi unix kebanyakan itu lho bro. Bash pun juga ada .bashrc nya kan. Setting themenya mungkin bisa diletakkan di file itu bro. Coba cari sintaks ngeset-nya di google :D. Aku belum pernah ngeset theme soalnya, cuma ngeset font-nya aku.

    Mode perintah itu yang itu jalanin segala aktivitas editing itu lho. Jadi, kalau mau menghapus satu karakter di cursor, pake ‘x’, dan lain-lainnya. Klo gak gini kan, nanti bingung x ini perintah atau huruf x di teks.

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s