The Cathedral & The Bazaar

Ada tulisan-tulisan yang sangat menarik dari pak Made Wiryana tentang hakekat pengembangan suatu sistem operasi. Hal ini dituangkan kedalam buku From Germany With IT, hasil buah pikiran dan “lamunannya” setelah sempat mengenyam pendidikan di luar negeri (kalo tidak salah di Australia dan Jerman). Lewat tahapan studi di luar negeri, pak Made berpendapat bahwa ada pilar-pilar yang mendukung kesuksesan pencapaian teknologi di negeri-negeri tersebut dan lewat tulisan-tulisannya, pak Made berusaha menjejaki bagaimana proses-proses yang dilakukan orang-orang negeri tersebut mencapai titik kesuksesannya seperti saat ini.

Berikut salah satu tulisannya:
Seperti kita ketahui, model pengembangan suatu sistem bisa mengambil pendekatan salah satu model, yakni model Cathedral atau model Bazaar. Ada istilah lain untuk kedua jargon tersebut, yakni Top Down dan Bottom Up. Saya pribadi lebih suka menggunakan istilah Cathedral dan Bazaar.

Pada model Cathedral, hanya kaum elit yang bisa mengembangkan sistem. Setelah sistem tersebut jadi, merekalah yang mempunyai hak untuk menyebarkan sistem tersebut kepada para pengguna sistem. Sedangkan pada model Bazaar, orang yang merasa mampu mengembangkan sistem akan diberikan kesempatan untuk menyajikan sistem rancangannya ke khalayak ramai dan secara terbuka menerima saran/feedback bila ada bug atau kekurangan. Hasil revisinya pun bisa disajikan ke khalayak ramai kembali. Pada model pertama (Cathedral), proses peer review terjadi di dalam khalayak elit (para pengembang sistem saja), sedangkan pada proses kedua, peer review terjadi lebih luas, baik dari kalangan pengguna sistem maupun para peer reviewer (pemberi feedback tadi).

Model Cathedral biasanya lebih lambat dalam mengikuti keinginan pemakai, atau terkadang tidak cocok karena terjadinya ketidaksesuaian model mental dan model konseptual. Di samping itu hanya mereka yang diterima oleh kalangan elit sajalah yang berhak merancang, memperbaiki dan mereview sistem.

Model Bazaarlah yang memungkinkan menjadikan suatu sistem yang lebih cepat dan lebih terbuka, karena semua pihak (pengguna maupun perancang) diletakkan pada tatanan yang sejajar serta tidak adanya suatu persyaratan penerimaan dari tim elit. Yang ada hanyalah penyesuaian (berdasarkan persyaratan yang dirasakan oleh mereka yang ingin terlibat).

So, what’s this all about, Mbul? Kenapa tulisan pak Made Wiryana kamu ketik panjang begini? Buat nambahin traffic ke blog km yah? Begini sodara-sodaraku.. Lewat artikel ringan ini, semua lapisan masyarakat diharapkan dapat mengambil manfaat dari semangat Bazaar tersebut, dengan tidak melulu menjadi konsumen ataupun melakukan kesia-siaan penggunaan dana akibat keinginan untuk sekedar mengikuti trend teknologi yang pesat dan berubah setiap saat. Jika tetap konsumtif, takutnya kita hanya tetap berada pada tingkat “mengkonsumsi” baik itu peralatan maupun informasi. Kita semua hendaknya terlibat dalam perbaikan sistem melalui peer review maupun information sharing. Tidak muluk-muluk. Semua itu dimulai dengan diskusi sederhana tentang hal-hal kecil. Dengan penuh minat dan antusiasme (^_^)

Menarik menilik kembali pendapat pak Made Wiryana yang tidak secara kagum buta melihat perkembangan Teknologi Informasi dan ekspor piranti lunak (software) di India yang melaju pesat bila dibandingkan Indonesia. Tidak secara kagum buta untuk langsung ingin mencontek apa yang telah India terapkan saat ini, namun lebih dipicu oleh keingintahuan tahapan-tahapan yang dilakukan India untuk mencapai tahap kemajuan di bidang Teknologi Informasi dan piranti lunak seperti saat ini. Ternyata, semua ini tak lepas dari langkah-langkah kebijakan India sejak tahun 1960-an yakni mengembangkan pendidikan ilmu murni (Matematika dan Ilmu Alam) serta penyediaan buku-buku murah untuk para mahasiswa-mahasiswinya. Bagaimana dengan Indonesia? Konsep apakah yang dikembangkan sejak 1960-an? (^_^)

Advertisements

8 comments on “The Cathedral & The Bazaar

  1. Ho3. Halo bro. Wuah thanks linknya ke tulisannya Eric Raymond. Komputer itu punya daya healing yang kuat. Semua orang pastilah suka ma komputer. Malem minggu malah otak-atik, bukannya kencan ki. Huehehehe.

  2. Ya dulu pernah mbaca, tapi belum pernah nge-hack. Itu game of life-nya Conway ya.

    Klo gak salah, hacker-hacker dulu tuh melakukan hal-hal yang aneh seperti itu yang kayaknya gak praktis tapi memicu intellectual curiosity. Dasar orang-orang Nerd!

    Mau Gem jadi kayak seperti mereka? Tapi sacrificenya ya women, social life, dan money (secukupnya saja yang penting bisa beli komputer, bayar internet, dan bisa beli Coke hahaha)

  3. Being a hacker is lots of fun, but it’s a kind of fun that takes lots of effort.If you aren’t the kind of person that feels this way naturally, you’ll need to become one in order to make it as a hacker. Otherwise you’ll find your hacking energy is sapped by distractions like sex, money, and social approval.

    Padahal sex itu enak… kata temenku sih huahahahaaha.

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s