This Is Not My Last Post. Erich Segal-The Class

“Reuni Harvard-ku yang ke-25 akan berlangsung bulan depan dan aku ketakutan setengah mati. Takut menghadapi kawan-kawan sekelasku yang penuh keberhasilan, yang menapaki kembali jejak-jejak kejayaan mereka, sementara dalam hidupku, aku tak memiliki apa-apa untuk dipamerkan kecuali beberapa helai rambut putih.”

Andrew Eliot takut setengah mati menghadapi reuni. Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak ia lulus dari Universitas Harvard. Sudah jadi apakah mantan teman-teman sekelasnya sekarang? Setahunya sudah banyak dari mereka yang meraih kesuksesan. Mantan teman sekamarnya sekarang telah menjadi kandidat menteri luar negeri. Salah satu temannya yang dulu miskin kini menjadi dekan. Seorang lagi, yang dulu selalu diremehkan, mencapai puncak prestasi sebagai pemusik terkenal. Sementara dalam hidupnya sendiri, Andrew tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Semua itu membuat ia kian terpuruk dalam perasaan rendah diri. Tapi benarkah hidupnya gagal total?

Dalam reuni yang dramatis itulah ia menemukan betapa mahal harga yang harus mereka bayar, betapa pedih rasa sakit yang mereka alami demi mencapai keberhasilan itu. Andrew Eliot ikut berpusar, terombang-ambing di tengah gairah, tawa, tragedi dan ambisi tak terkendali anggota Kelas ’58.

Advertisements

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s