Honeymoon With My Brother-Franz Weisner

“Terletak di antara jajaran pohon pinus dan riak-riak pesisir Pasifik, Sea Ranch California adalah tempat yang indah untuk patah hati. Bunga-bunga lili liar dan singa-singa laut pemarah, semuanya akan mengalihkan perhatianmu selama setidaknya beberapa menit setelah wanita impianmu meninggalkanmu di altar”.

Kehidupan Franz Weisner seolah-olah hancur berantakan ketika tunangannya yang telah dipacarinya selama 10 tahun memutuskan hubungan seminggu sebelum hari pernikahan mereka. Dengan pesta pernikahan dan bulan madu yang telah siap menanti, ada dua pilihan yang tersedia baginya: membatalkan semuanya atau menjalankannya tanpa mempelai wanita. Didukung oleh adiknya, Kurt Weisner, dan para sahabatnya, Franz yang nyaris putus asa mengambil pilihan kedua.

“Wuih, kaya apa rasanya ditinggal mempelai padahal semua tempat & pengisi acara udah disiapin, undangan udah disebar, katering udah dipesen, duit udah dibelanjain? Alamak rugi bandar. Rugi perasaan juga. Itu yang ga bisa diganti dengan uang..”

Bulan madu, yang awalnya dianggap sebagai gurauan untuk meringankan beban hati, ternyata berubah menjadi pengalaman yang luar biasa. Franz dan Kurt, dua bersaudara yang semula merasa saling terasing menemukan kembali jati diri dan keakraban mereka. Keduanya kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaan mereka, menjual rumah mereka, menyumbangkan pakaian dan perabot mereka, membuang ponsel dan penyeranta mereka lalu pergi bersama mengelilingi dunia.

Setelah bertualang selama 4 tahun dan menyinggahi lebih dari enam puluh negara, termasuk Indonesia, hubungan mereka justru semakin erat. Franz yang semula patah hati akhirnya menemukan makna hidup yang baru.

Perjalanan mereka pun berubah menjadi sebuah cara baru menikmati hidup. Dari alam liar Amerika Latin hingga Eropa Timur dan Timur Tengah, dari Afrika hingga Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru, setiap petualangan baru membawa mereka ke tempat-tempat yang lebih unik dan menarik, diwarnai aneka kisah seru yang mereka alami.

Lucu, menyentuh sekaligus sangat menghibur, buku ini bakal memancing hasrat bepergian anda. Mengikuti kedua bersaudara itu sedikit demi sedikit menanggalkan setiap rutinitas harian mereka dan hidup bebas merdeka.

====================================================

Mau ngga mau, kisah Honeymoon With My Brother ini bakal bikin kita berkontemplasi kembali. Mengenang. Bercermin. Dengan hati. Sebab hati bukanlah mulut. Sebab hati adalah cermin yang tidak bisa berbohong (terinspirasi postingan Bu Andini dulu, selengkapnya bisa dibaca disini)

Untuk anda-anda yang pernah (atau sedang) patah hati dan menyikapinya dengan cara yang salah, kenanglah kembali patah hati anda tersebut. Nikmatilah. Jika kemudian perasaan mengharu-biru (atau mendongkol-merah? ^_^;) itu datang lagi, dan anda merasa sebagai orang paling malang, paling menyedihkan dan merasa paling patut dikasihani (komentar pembaca: nyindir ya bang?) ingatlah Franz Weisner ^_^;)

Jika anda merasa nasib anda jauh lebih malang daripada Franz Weisner, atau ada warna tersendiri dalam kisah patah hati anda, maka selamat, bisa jadi kisah anda jauh lebih menyayat hati sekaligus inspiratif dan membangun, sehingga layak untuk diterbitkan menjadi buku memoar dengan genre sama namun kisah yang berbeda. Layak dicoba, loh. (^n^)

Sapa tau ntar bakal nongol sebagai buku baru yang di-recommended oleh Oprah’s Book Club, naik cetak hingga 6 kali dan masuk New York Times Bestseller juga. Well, who knows? (^_^)

Nulis lagi ah! *dudududu-berdendang ala dangdut*

Advertisements

2 comments on “Honeymoon With My Brother-Franz Weisner

    • bagus ndah bukunya. memang terkadang kita harus ngrencanain “escapology” kita dari rutinitas yang itu-itu aja. bentuknya aja yang beda-beda untuk tiap orang.

      yah buku kan ibarat lagu. disesuaiin ama mood aja biar meresapnya lebih terasa. ha3. btw how’s life? semoga tetep semangat baik dlm suka ataupun duka ya sis. *sok bijak padahal nasib ga jauh beda malangnya :D*

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s