Mind Mapping With XMind

Knock-knock! (Q: Hmm. Who’s there? ), (A: Its ideas and opportunity). (Q: You lied. Great ideas & good opportunity don’t knock twice!)

Pernah baca buku Mind Mapping karya Tony Buzan? Kalo belum baca, paling nggak pasti pernah denger nama penulis ini kan? 😀 Ide-ide bagus kadang bersliweran tanpa kenal waktu dan tempat. Sayang sekali kalo ngga di-capture. Keesokan harinya ide-ide inspiratif ini bakal terbang begitu saja tanpa pernah bisa kita olah. Ide bagus kadang tidak datang dua kali!

XMind merupakan perangkat lunak open source brainstorming yang dikembangkan oleh XMind Ltd. Perangkat lunak ini membantu orang-orang untuk menangkap ide-ide, mengatur berbagai grafik, dan membaginya untuk kolaborasi. Software ini mendukung format peta pikiran, diagram Ishikawa (juga disebut diagram tulang ikan atau fish-bone), diagram pohon, organizational chart, logika grafik, dan spreadsheet.

Continue reading

Mengubah Fokus untuk Hasil Yang Lebih Baik

Craig Harper, seorang scientist, pengajar di suatu universitas dan juga seorang motivational speaker pernah menjalankan suatu aktivitas pendek yang unik dalam workshop-nya, yang mengajarkan kepada kita bagaimana dan kapan sebaiknya kita memfokuskan perhatian dan energi yang kita punya.

“Saya menginstruksikan audien saya untuk fokus selama 60 detik ke depan untuk mencatat segala macam benda di ruangan ini yang berwarna merah. Pencatatan ini dilakukan tanpa penggunaan alat bantu apapun. Kertas, notes dan buku dilarang untuk dipakai. Pada saat melakukannya, tidak seorang pun boleh berbicara satu-sama lain. Tidak seorang pun boleh menulis atau mencatat. Kegiatan ini murni untuk melatih fokus pikiran mereka.”

“Kemudian setelah 60 detik tersebut, saya menginstruksikan audien – dengan mata tertutup – untuk menjawab pertanyaan saya. Saya pun menanyakan berbagai macam pertanyaan yang tidak relevan dengan aktivitas selama 60 detik pertama tadi selama beberapa waktu.”

“Setelah itu, saya berbicara kepada audien apakah mereka sudah siap menceritakan hasil “pencatatan” di pikiran mereka pada kegiatan pertama tadi. Mereka bilang siap. Saya memposisikan diri saya di depan whiteboard dengan sebuah marker di tangan.”

Saya pun bertanya, “Oke, sekarang beritahu saya benda-benda apa saja yang berwarna… COKLAT.. di ruangan ini?”

Continue reading

Getting Things Done With Chandler

Getting Things Done (GTD) adalah metode organisasi diri (a note to self organizational method) yang berprinsip bahwa seseorang akan bisa menjalankan aktifitas dan tugas-tugasnya jika daftar aktifitas dan tugas yang harus dilakukan itu dicatat secara eksternal. Kenapa? Karena jika dicatat (pada media bantu) maka pikiran kita akan terbebas dari kegiatan “harus MENGINGAT semua aktifitas dan tugas yang harus dilaksanakan”, sehingga pikiran dan tenaga kita akan bisa lebih fokus & terkonsentrasi untuk MENJALANKAN daftar aktifitas dan tugas itu secara AKTUAL.

Saya rasa sudah banyak orang yang tertarik dengan konsep Productivity Management System yang ditulis David Allen ini. Bila media kertas seperti dalam tulisan orisinil di bukunya dirasa kurang praktis untuk para desktop-worker (seperti saya & anda ^_^), dan bila media piranti lunak GTD komersial dirasa terlalu mahal, maka sambutlah Chandler, aplikasi GTD bebas biaya.

Continue reading

Dinner ala Debus

Semalem ada pengalaman ga enak yang saya alami. Udah ngejalanin malem mingguan ga jelas dengan “cara yang menyedihkan”, eh pulangnya juga masih aja ketiban sial. Critanya setelah pulang dari malming dan berhubung ga dapet jatah dinner romantis, saya putuskan untuk beli nasi goreng aja.

Waktu itu udah hampir jam setengah 12 malem. Warung nasgor yang buka cuma satu. Saya pesen seporsi buat dibungkus. Sambil nunggu mateng, saya melamun *Mikir apaan hayo?! Cantik ngga yang dipikirin? ^_^*

Prank!.. Weh suara apaan tuh? Si bapak tukang nasgor rupanya terlalu semangat nuangin saos sambel ke penggorengan. Pecah deh itu botol saos. Ha3. Si bapak ada-ada aja. Dia nglanjutin nggoreng sambil cengar-cengir.

Nasi goreng pun dibungkus dan setelah bayar, saya cabut pulang. Di depan tipi, saya makan nasgor sambil ditemenin teh anget. Mantap.*Kriuk kriuk kress kress* Loh kok rasanya ada yang asin-asin anyir gitu? Cek punya cek, bibir saya kok BERDARAH?!

Kurang asem! Ada sisa-sisa pecahan beling di nasgor yang saya beli. Ngajakin perang si bapak itu. Masak gara-gara 7000 perak saya harus operasi usus jutaan rupiah?! Nasi pun saya buang ke tong sampah dan saya beritikad ga bakal beli nasgor di tempat itu lagi. Be careful, guys!