Bystander Effect – Balada Hidup di Kota Besar

Photo Courtesy: From this Blog

Saya teringat dengan cerita mantan saya dulu. Sebut aja dia dengan panggilan Nona C. Semasa kuliah, dia adalah pengguna angkutan kota yang aktif. Istilah keren ala Garuda Airlines, semacem frequent flyer gitu lah.  Ke mana pun aktivitas dan tujuannya, angkutan kota selalu jadi penyelamatnya.

Pada suatu waktu, naasnya, di angkutan kota ada segerombolan pencopet yang mengincar hape Nokia milik C. Dengan cekatan hape berhasil diambil. Nona C yang punya spidey-sense ala Peter Parker pun segera nyadar hapenya diambil dan mulai meminta tolong kepada penumpang bus yang lain. Karena menarik perhatian penumpang lain, si copet bertindak cepat. Hape berusaha dilempar keluar bus namun mental balik kena bagian atas pintu bus. Hape yang gagal dilempar keluar bus segera diamankan ama Nona C.

Setelah itu saya lupa kronologis ceritanya, apakah Nona C segera turun dari bus untuk menghindar dari gerombolan copet itu ataukah gerombolan copet itu yang kabur turun dari bus setelah rencana pencopetannya gagal. Tapi, yang tetep saya inget adalah jumlah penumpang yang nolong Nona C sewaktu hendak dicopet tadi. Ayo tebak berapa orang yang peduli? Ngga ada. Nol. Nil. Zip. *miris*

Setelah itu, saya ngga tega liat dia naik angkutan kota lagi..

Kisah Kitty Genovese

Senada (tapi tidak sama) dengan cerita di atas adalah kasus Kitty Genovese, yang merupakan salah satu kejadian paling memprihatinkan dalam sejarah kota New York. Kitty adalah seorang peserta kontes kecantikan yang dikejar-kejar oleh pembunuh berantai acak dan dianiaya sampai tiga kali selama lebih dari setengah jam, sebelum akhirnya dibunuh oleh pengejarnya.

Photo Courtesy: From Here

Yang mencengangkan adalah fakta bahwa 38 tetangganya menyaksikan kejadian itu dari jendela tempat tinggalnya masing-masing, dan tidak ada satu tetangga pun yang yang mengangkat telponnya untuk menghubungi polisi selama penganiayaan berlangsung. Untuk menelpon saja tidak, apalagi untuk berniat keluar ke jalan dan menolong gadis itu. Tragis! Ini kejadian yang sangat-sangat memalukan dan menggambarkan betapa dingin dan tidak manusiawinya gaya hidup di perkotaan.

Abe Rosenthal, yang belakangan menjadi editor New York Times menulis sebuah buku tentang kasus Kitty Genovese ini.

Tidak seorang pun dapat mengatakan mengapa 38 saksi tidak mengangkat telpon pada waktu Kitty Genovese sedang dianiaya. Namun, kita dapat mengandaikan bahwa sikap apatis mereka mungkin salah satu yang khas dalam gaya hidup perkotaan. Secara psikologi, ini adalah salah satu cara bertahan hidup. Jika seseorang merasa dikelilingi dan ditekan oleh jutaan orang lain, agar tekanan itu tidak sampai merugikan secara langsung, cara satu-satunya adalah mengabaikan tekanan itu sesering mungkin. Ketidakpedulian kepada tetangga dan masalah-masalah mereka merupakan cerminan gaya hidup di New York dan kota-kota besar lainnya.

Psikolog Bibb Latane dan John Darley mengadakan serangkaian studi untuk memahami masalah yang mereka sebut “kecenderungan untuk menjadi penonton” atau “bystander problem“. Mereka menyandiwarakan beberapa keadaan darurat yang disesuaikan dengan berbagai situasi untuk mengetahui siapa yang akan datang menolong dan membantu. Yang mengejutkan adalah hasil temuan mereka bahwa kecenderungan orang untuk menolong orang lain ditentukan oleh berapa banyak saksi dalam suatu kejadian.

Gimana tuh?

Dalam sebuah eksperimen, misalnya, Bibb Latane dan John Darley mengatur agar salah seorang mahasiswa mereka berpura-pura mengalami serangan epilepsi. Apabila tetangga mahasiswa itu hanya satu orang dan orang itu tidak tahu bahwa ada orang lain di sekitarnya, peluang orang itu memberikan pertolongan kepada sang “korban epilepsi” adalah sebesar 85 %. Namun, bila di sekitar “korban epilepsi” itu ada 4 orang lain yang menjadi saksi mata terjadinya serangan epilepsi, peluang si tetangga itu untuk mendatangi si mahasiswa hanyalah 31 %!

Dalam eksperimen lainnya, orang yang melihat ada asap mengepul dari bawah pintu akan mempunyai peluang untuk melaporkan kejadian tersebut sebanyak 75 % ketika ia sendirian dan akan tinggal berpeluang 38 % ketika dia melihat asap bersama sejumlah saksi mata lain.

Apa yang terjadi?

Ketika saksi mata tidak sendirian, tanggung jawab untuk mengambil tindakan MENYEBAR. Masing-masing mengandaikan ada seseorang lain di antara mereka yang akan menolong atau menelpon. Masing-masing juga bisa mengandaikan bahwa karena tidak ada yang bertindak, suara mengerang atau kepulan asap di bawah pintu BUKANLAH MASALAH YANG SERIUS.

Dalam kasus Kitty, ironisnya, kalau saja gadis itu diserang di jalanan yang tidak terlalu ramai dan seseorang yang melihatnya tahu bahwa tidak ada orang lain lagi di sekitar situ, mungkin saja sang gadis akan mendapat pertolongan dan selamat dari rencana pembunuhan.

Kesimpulannya?

Terkadang, hal yang penting agar orang lain bersedia mengubah perilaku mereka dan memperdulikan keadaan orang-orang di sekitar mereka yang sedang mengalami musibah adalah INFORMASI YANG SESEDIKIT MUNGKIN TENTANG SITUASI YANG SESUNGGUHNYA. Biarkan nurani yang akhirnya berbicara.

Orang yang membuka hatinya akan memiliki kepedulian terhadap orang dan lingkungan sekitarnya yang lebih besar daripada kelihatannya dan mempunyai peluang untuk mencegah agar tidak ada Kitty-Kitty lain yang menjadi korban..

Insight hari ini saya peroleh setelah membaca 1/3 halaman awal buku Malcolm Gladwell yang berjudul Tipping Point. Sedikit banyak semoga memberi inspirasi ke dearest readers sekalian.

Spesial thanks to bro Ajooy buat rekomendasinya.

Advertisements

8 comments on “Bystander Effect – Balada Hidup di Kota Besar

  1. asik dapat cerita ttg tipping point. aku lagi baca bab 1 ama 2 Outliers bro.

    nanti aku ceritain juga deh. di bab 1 ini mengejutkan he3. katanya, tanggal lahir ikut mempengaruhi kesuksesan. yg lahirnya di awal tahun seperti januari, februari, atau maret lebih sukses dari bulan lainnya he..he..he :). btw, aku lahir februari. hmm 🙂

  2. He..he thx bro atas ulasannya bystander effect ini. Menambah ilmu.

    Tadi di televisi ada berita anak SD di turki yang kebawa elevator. Anak itu gantungan di sisi luar elevator sampai ke atas. Untungnya ada seorang bapak yang memperhatikan. Saat anak itu jatuh, orang ini mampu menangkap anak tadi. Saksi matanya cuma bapak ini, sedangkan yang lain tidak melihat.

    Saat itu juga aku kepikiran bystander effect. Lalu aku jelasin ke adikku ha..ha..ha :).

  3. @ajooy
    hohoho. ada kejadian lain ttg bystander effect ya 😀

    menarik juga ya studi ttg antropologi & psikologi manusia itu bro. semakin ketauan kecenderungan manusia itu kaya gimana, dr sisi habit bawaan & pengaruh lingkungan.

    kayanya ilmu ngga bakalan abis dicari utk satu kehidupan sekarang. ha3. terlalu banyak warna yg menarik, sayng kalo cuma milih salah satu aja. Bner kan bro? 😀

  4. kalau dengar ceritanya kita berpikiran kok pada tega sih penumpang bus atau tetangganya Kitty. Tapi kalo beneran aku berada di bus yang sama dengan Nona C tadi mungkin aku juga gak bakal spontan nolongin Miss C… bystander effect ya…baru denger.

  5. @alice in wonderland
    belakangan ini kan ada brita pelecehan di transjakarta tuh alice. si korban sendiri yg akhirnya nglaporin si peleceh ke polisi. org2 yg ada di busway? cuek bebek. miris ya.

    sekarang transjakarta nerapin antrian pria & wanita dipisah. moga2 ngefek lah. kasian..

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s