Broken Windows – Epidemi Penyebaran Kejahatan

Photo Courtesy: From this site.

Saya miris ngeliat kondisi bagian depan sebuah toko kelontong. Toko itu ada di dekat (ngga bersebelahan langsung sih) dengan tukang sate Madura favorit saya, jadi kalo pas beli sate, mau ngga mau mata saya memperhatikan kondisi toko itu.

Toko kelontong dan vandalisme anak-anak jalanan

Toko itu buka dari pagi sampai sekitar jam 8 malem. Setelah toko itu tutup, entah dari mana, bergerombollah anak-anak jalanan ngumpul di bagian teras toko. Memprihatinkan. Coretan hasil vandalisme anak-anak jalanan makin hari makin banyak aja. Bagian teras itu juga sering dipake ama anak-anak jalanan untuk tidur-tiduran. Yang paling menyebalkan adalah terkadang tercium aroma pesing. Bener-bener ngga tau aturan.

Pemilik toko sepertinya nggak memberi respon berupa tindakan tegas terhadap aktivitas anak jalanan di teras tokonya. Sangat disayangkan. Jika diibaratkan, kondisi toko diatas sama dengan analogi sebuah jendela yang pecah dari sebuah rumah.

Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu.

Di sebuah tempat, awal yang remeh seperti corat-coret, ketidakteraturan dan pemalakan setara dengan jendela pecah, sebuah ajakan untuk melakukan kejahatan lebih serius.

Konsep Broken Windows

Adalah tandem kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling yang membuahkan konsep “Broken Windows” tersebut. Mereka berpendapat bahwa kejahatan bersifat menular, berawal dari awal yang remeh-remeh yang kemudian menyebar seperti epidemi menjadi kejahatan-kejahatan berat yang serius.

Pemalak dan penodong, entah amatiran atau profesional, percaya bahwa peluang mereka untuk tertangkap atau diadukan ketika beroperasi di jalanan berkurang bila mereka memberikan ancaman yang cukup kepada calon korban. Jika masyarakat di suatu tempat tidak mampu mengatasi pemalak yang beroperasi di jalanan, pencuri dan perampok pun akan berkesimpulan bahwa orang di situ tidak akan langsung menghubungi polisi atau mengadukan mereka andai kata kejahatan itu mereka laksanakan.

David Gunn dan New York Transit Authority (NYTA)

Pada tahun 1980-an, David Gunn diangkat sebagai direktur baru  NYTA. Pada masa itu banyak pejabat yang menganjurkan agar Gunn tak usah pusing soal corat-coret di gerbong kereta. Mencemaskan masalah corat-coret saat NYTA nyaris bangkrut ibaratnya sama konyolnya dengan mengepel geladak kapal Titanic ketika kapal mewah itu hampir membentur gunung es. Namun Gunn dan timnya tetap kukuh pada rencana awal.

Anak-anak vandal akan datang pada malam pertama untuk memoles cat dasar. Pada malam kedua, mereka membuat sketsa dan barulah pada malam ketiga mereka membubuhkan catnya. David Gunn dan timnya yang mengetahui hal tersebut menunggu hingga aktivitas coret-coret itu selesai dan langsung membersihkan cat-cat di gerbong begitu anak-anak vandal itu pergi.

Kalian boleh saja menghabiskan waktu tiga malam untuk menggambari kereta ini. Tapi tidak ada yang akan melihat karya kalian, karena kami akan menghapusnya.

David Gunn juga menambahkan:

Apabila anda ingin membenahi organisasi ini (NYTA) berikut moralnya, anda harus mampu mengalahkan aksi corat-coret. Sebelum memenangkan perang ini, semua reformasi manajemen dan perbaikan fisik akan sia-sia belaka. Kita ingin menambahkan kereta-kereta baru yang harga per buahnya sekitar 10 juta dolar, namun kecuali kita mampu berbuat sesuatu untuk melindungi kereta-kereta itu, kita tahu apa yang akan terjadi kemudian. Kereta-kereta baru itu hanya akan berumur satu hari dan selewat itu yang terjadi adalah vandalisme.

Kaitannya dengan kondisi kereta-kereta (api dan listrik) di Indonesia?

Jadi inget ama Nona C (lagi). Dia juga seorang avid user dalam urusan penggunaan kereta listrik. Angkot iya. Kereta Listrik iya. Ratunya Angkot-Kereta donk? Mungkin 😀


Photo Courtesy: From this blog.

Semoga maling-maling ngga tau diri itu berhenti nyolong bantalan rel kereta ataupun panel lampu kereta. Berhenti ngotorin kereta. Berhenti nglemparin batu ke kereta. Berhenti ngencingin kereta. Kalo kencing ya di kasur lah (Eh, salah ya? :D)

Dihukum aja sih mereka itu. Biar kapok.

Semoga kondisi perkeretaan di Indonesia ditingkatkan kualitasnya, ngga sering anjlok juga ngga sering macet gara-gara mati listrik.  Nyampe tempat kerja pun ngga telat jadi ngga dimarahin bos. Mood kerja pun tetep tinggi. Caiyo para dearest commuters sekalian! Termasuk km, nona C 😀

Kaitannya dengan Indonesia kita tercinta?

Kita sebagai orang Indonesia adalah orang-orang yang telah makan asam garam dan punya imunitas dengan tingkat tertentu terhadap retribusi gelap, pemalakan terselubung dan kesewenang-wenangan. Ibaratnya seperti pawang ular yang sering terkena bisa ular dan akhirnya lambat laun menjadi kebal. Itu kalo jadi kebal 😀 Yang mati meranggas setelah kepatok ular pun ngga sedikit. Nah lo!

Kata seorang pelawak, adalah hil yang mustahal 😀 untuk memerangi penggelapan pajak di tingkat pejabat tinggi dan korporasi kalo sehabis pulang belanja dari pasar aja, kita masih sering menjadi korban retribusi gelap parkir yang dibiarkan merajalela tanpa ada tanggapan serius dari pihak-pihak yang berwenang. Seperti pungguk merindukan bulan. Masih kecepetan seratus tahun.

*Masih dari sumber inspirasi yang sama :D*

Advertisements

4 comments on “Broken Windows – Epidemi Penyebaran Kejahatan

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s