Guitar Pro 5 – Install. Play. Rock!

Sudah dua minggu ini saya asik dengan projek sampingan baru pas waktu senggang, yaitu belajar membaca dan menulis not balok dan notasi musik. Yeah, i’m a newbie kalo tentang yang satu ini. Pengalaman saya belajar musik cuma pas genjrang-genjreng bergitar ria pas SMA dulu. Buru-buru maenin lagu dengan mantap, nyetemnya aja sering ngga pas.

Makanya, dulu saya pengen banget beli keyboard. Soalnya ngga perlu disetem. Soalnya dipencet kaya apapun ngawurnya, suara yang keluar tetep bener. Ngga ada fals-nya :D. Ngga kaya gitar πŸ˜€ Sampai saat ini ngga kejadian juga saya punya keyboard. Punyanya cuma gitar. Juga sebatang rekorder. Peninggalan jaman SMP dulu.

Tiga minggu lalu, benang merah yang menggiring saya belajar notasi musik mulai kelihatan. Adik laki-laki saya beli bas elektrik di Barkas. Dapet murah. Merknya Sound Gear Ibanez. Berhubung ngga punya ampli, adik saya latihan manual sambil dengerin lagu-lagu favoritnya di media player (Songbird pastinya he3).

Hmm. Di jaman modern kaya begini, banyak software self-help. Tentang psikologi. Belajar seni menggambar. Belajar software. Bikin film. Nah, harusnya ada juga donk software self-help soal bermusik. Langsung deh saya ngacir ke tempat Bro Eka. Dia udah makan asam garam plus cuka kethek dan terasi basi kalo soal bermusik πŸ˜€ Piss bro. Dia pun ngeluarin software andalannya, Guitar Pro. Setelah dia demo beberapa menit, rahang saya ngga berhenti mangap. Plus ngeces. Kagum. As expected from Metal is My Life owner πŸ˜€

Continue reading

Advertisements

Linux, Windows, Mac dan LEGO.

Saya sempat membaca salah satu tajuk di salah satu edisi majalah Linux World dan tertarik untuk menceritakan isinya di postingan kali ini. Selain itu, mumpung udah dijengukin ama sis Alice karena saya jarang posting belakangan ini. *Sis, khawatir apa kangen sih sebenernya? :D*

Tulisan asli di tajuk Linux World itu berbunyi seperti ini: The current influx of Linux users has a large percentage of non hobbyist and non hackers. They want a computer that just works, a computer that works like Windows. They aren’t interested in spending time setting up Linux to make it work the way they want it. They want it to work like that out of the box. That’s perfectly okay, but from the typical Linux user’s perspective, this is like somebody who wants a Lego car that comes pre-assembled and glued together so it can’t come apart.

Continue reading

Pohon Ek dan Kesuksesan

Photo Courtesy: From this Website

Dengan nada hiperbolis (dan sedikit memelas), seorang (bakal calon) penyanyi di suatu kontes pencarian bakat menyanyi di salah satu stasiun televisi ibukota mengatakan bahwa sudah tiga tahun ini ia malang melintang tak kenal lelah manggung dari satu kafe ke kafe lainnya.

“Saya sedikit demi sedikit mencoba meraih kesuksesan. Saya berjuang dengan darah (?), airmata dan kekuatan saya sendiri, mencoba merintis sukses dari nol. Saya layak untuk melanjutkan perjuangan saya di babak berikutnya”.

Karena style menyanyi dan penguasaan panggungnya bisa dibilang bagus, para juri pun memberikan kesempatan. Si peserta lolos ke babak berikutnya.

Masih ada kaitannya dengan kejadian diatas. Para ahli biologi seringkali membicarakan tentang “ekologi” sebuah organisme. Contohnya, pohon Ek tertinggi di hutan menjadi pohon yang tertinggi bukan karena ia tumbuh dari biji pohon yang paling gigih; ia menjadi pohon tertinggi karena tidak ada pepohonan lain yang menghalangi sinar sang surya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum ia tumbuh dewasa.

Continue reading