Aset Terbesar Microsoft: Karyawan – Business The Bill Gates Way

PEKERJAKAN ORANG-ORANG YANG TERAMAT CERDAS
Kendati cerdas, Gates tak berusaha mengakui semua sukses Microsoft adalah hasil kerja kerasnya. Kemampuan Gates mengakui bakat orang lain dalam bidang masing-masing adalah hal yang teramat penting. Seperti disebut dalam majalah Fortune: “Microsoft dipimpin seorang pria yang diakui luas sebagai manusia jenius di bidangnya, yang mempunyai kemampuan mengakui kejeniusan di dalam diri orang lain”.

Ini adalah sesuatu yang didukung Gates. “Saya harus mengatakan bahwa keputusan bisnis terbaik yang pernah saya lakukan adalah keputusan yang berhubungan dengan memilih karyawan. Memutuskan mulai berbisnis dengan Paul Allen sepertinya ada di bagian atas daftar saya dan kemudian mempekerjakan Steve Ballmer, yang menjadi mitra bisnis utama saya sejak itu. Sangat penting untuk mempunyai seseorang yang benar-benar anda percayai, yang benar-benar punya komitmen, kesamaan visi dan punya skill yang hanya sedikit berbeda daripada milik anda dan yang bisa bertindak sebagai penyeimbang diri anda. Terkadang saya menceritakan beberapa ide kepadanya dan ia akan berkata, “Sebentar, apakah kamu sudah pikirkan ini atau itu?” Manfaat pertanyaan yang mengusik seseorang yang cemerlang bukan hanya membuat bisnis menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga akan mendatangkan banyak sukses”.

Gates sendiri tidak suka mempekerjakan orang-orang yang gagap teknologi. “Aku tidak mempekerjakan orang-orang dungu,” katanya. Bagi sebagian kalangan, sikapnya ini dipandang sebagai sikap elitis dan memancing kecaman. Tetapi sikap ini mempunyai sejumlah efek positif. Perusahaan itu mampu merekrut banyak mahasiswa cemerlang langsung setelah mereka lulus. Mereka tergiur bekerja dengan orang-orang terbaik.

SELAMAT DATANG DI SMARTSVILLE

Bill Gates adalah perwujudan dari sesuatu yang dianggap tidak mungkin. Seorang intelek yang praktis. Dia terus mencari dan mempekerjakan orang-orang tercerdas di industri komputer. Selalu mempekerjakan individu paling brilian sejauh dia bisa peroleh. Aset utama Microsoft sebenarnya adalah kumpulan otak Bill Gates dan para karyawannya.

Sejak awal, Gates bersikeras bahwa perusahaan itu membutuhkan otak-otak paling cerdas. Microsoft menyebut mereka sebagai “orang-orang dengan IQ tinggi,” dan senantiasa berusaha keras menarik perhatian calon-calon yang amat cemerlang. Bila dibutuhkan, Gates akan ikut campur secara pribadi dalam proses perekrutan. Anggaplah, sebagai contoh, seorang pemrogram yang sangat berbakat butuh tambahan bujukan agar sudi bergabung dengan Microsoft, maka Gates sendirilah yang akan menelpon orang tersebut.

Orang-orang terbaik akan menarik orang-orang terbaik pula di bidang yang sama. Juga, terkadang para pemrogram terkenal akan mengajak bekas teman sekerjanya bergabung dengan Microsoft. Sebagai contoh, Gates merekrut Charles Simonyi dari Xerox PARC (Palo Alto Research Centre) pada tahun 1981. Simonyi, yang sejak saat itu dikenal dengan julukan “Bapak Microsoft Word”, kemudian mengajak orang-orang lain untuk bergabung. “Dalam hal mempekerjakan orang-orang hebat, bagaimana kami mampu melakukan ini? Dari mulut ke mulut,” kata Gates. “Kata orang, menyenangkan kerja disini”.

BUDAYA KAMPUS YANG KENTAL
Di markas besar Microsoft yang dirancang khusus di wilayah Redmond, Washington, Gates dengan sengaja menciptakan lingkungan yang pas bagi orang-orang muda cerdas yang dibutuhkan perusahaannya. Dengan estetika sederhana, ruang komunal terbuka dan area hijau, markas besar itu menghembuskan atmosfer kampus yang bagi banyak orang yang langsung bergabung dengan perusahaan itu selepas kuliah. Lngkungan ini dikenal dengan sebutan The Microsoft Campus.

Dalam banyak hal lain, budaya di sana juga belum berubah sejak masa-masa awal. Para karyawan berpakaian informal, terbang dengan tiket ekonomi dan bermalam di hotel yang tidak terlalu mahal ketika keluar kantor untuk urusan dinas (termasuk Gates sendiri). Tidak ada simbol-simbol status seperti ruang makan eksekutif ataupun perabot kantor yang mahal.

PARA PECANDU KAFEIN

“Saya sendiri bekerja dalam waktu yang lama, tetapi tidak selama dulu. Saya tentu saja tidak mengharapkan orang lain bekerja sekeras saya. Seringkali saya bekerja kurang dari 12 jam, terkadang tidak bekerja dan pergi liburan”.

Stamina kerja Gates dalam bekerja diterjemahkan ke kultur Microsoft, yang kira-kira dibahasakan sebagai “kerja keras, kemudian kerja lebih keras lagi”. The Microsoft Campus di Redmond selalu sibuk oleh para pekerja yang bekerja lembur seharian. Pizza dan Coke diantarkan ke meja kerja sehingga mereka tidak perlu stop bekerja selagi makan. Perusahaan pun mengeluarkan uang untuk minuman ringan dan kopi. Seperti yang diungkapkan Microsoft kepada Newsweek tahun 1994, “Apapun minuman yang mengandung kafein, disediakan gratis”.

Aje gile, geek abis!

Advertisements

2 comments on “Aset Terbesar Microsoft: Karyawan – Business The Bill Gates Way

  1. bukan alice, microsoft campus itu cuma julukan kantor pusatnya microsoft di redmond aja, cuz pegawainya kebanyakan muda-muda dan suasana kantornya mirip di kampus mereka dulu. jadi biar para fresh graduate n pekerja lainnya betah.

    masa2 paling indah kan masa2 ngampus (^_^)

    tp setuju juga, coba di indo ada kantor bersuasana kondusif kaya gitu, mungkin tiap hari bakal ada penemuan. bangsa bisa tambah pinter (sok wise mode ON)

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s