Sebuah Tanya – Soe Hok Gie

Akhirnya semua akan tiba, pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu? Memintaku minum susu dan tidur yang lelap, sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu? Ketika kudekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata, “Kudengar derap jantungmu”. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.

Manisku, aku akan jalan terus. Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan, bersama hidup yang begitu biru.

Redup-Terang dan Variasi Warna Bintang

“Eh liat tuh, bintang yang di sebelah selatan itu terang banget ya. Beda banget ama bintang yang di sebelah kanannya, yang redup itu. Terus, bintang yang di sebelah timur itu beda banget ya warnanya. Agak kekuning-kuningan. Padahal yang lain warnanya biru. Ada bintang Golkar diimpit ama bintangnya Demokrat. Ha3. Khas sekali percakapan ala orang Indonesia. Pakai bawa-bawa partai segala”. 😀

SKALA MAGNITUDO BINTANG-BINTANG

Ketika ahli astronomi membicarakan tingkat gelap-terangnya nyala suatu bintang bila dibandingkan dengan bintang yang lainnya, mereka sebenarnya berbicara tentang magnitudo, sebuah ukuran brightness objek-objek angkasa. Seberapa terang suatu objek tampak di mata pengamat sangat tergantung pada kekuatan nyala objek tersebut dan jarak objek dari mata pengamat. Para ahli astronomi membagi nilai magnitudo ini menjadi dua kategori ukuran, yakni magnitudo absolut (absolute magnitude / M), yang merupakan ukuran seberapa banyak cahaya yang dikeluarkan objek angksa dan magnitudo semu (apparent magnitude / m), yang merupakan ukuran seberapa terang objek angkasa tampak di mata pengamat.

Biar lebih gampang memahaminya, kita pakai analogi berikut. Kita pergi ke Toko Babah A Cong untuk membeli dua buah lampu 100 watt. Merknya sama. Pabriknya sama. Kekuatan nyalanya juga sama. Dengan kata lain, kedua lampu tersebut memiliki nilai magnitudo absolut (M) yang sama (100 watt). Kemudian kita lakukan percobaan berikut. Satu lampu kita taruh 100 meter di depan kita, sementara lampu yang lainnya kita taruh 1 kilometer di depan kita. Mana yang keliatan lebih terang di mata kita? Tentunya lampu yang 100 meter di depan kita yang kelihatan lebih terang. Lampu yang dekat dengan kita sebagai pengamat ini memiliki nilai magnitudo semu (m) yang lebih besar dibandingkan dengan nilai magnitudo semu lampu yang lebih jauh tadi.

Continue reading

Konstelasi dan Penamaan Bintang-Bintang

Salah satu objek pengamatan kita dalam “Penjelajahan Galaksi”  adalah konstelasi. Apakah konstelasi itu? Konstelasi adalah kumpulan bintang-bintang yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu, yang tampak saling berdekatan secara VISUAL (dari mata pengamat, dalam hal ini adalah kita yang berdiri di bumi).

Pengelompokan bintang-bintang dilakukan secara arbitrary, dimana kebudayaan yang berbeda-beda memiliki konstelasi yang juga berbeda. Dalam beberapa kebudayaan, konstelasi yang bermacam-macam itu seringkali diasosiasikan dengan mitologi-mitologi lokal yang berkembang. Sebagai contoh, konstelasi Beruang Besar (Ursa Major), yang seringkali disebut juga sebagai konstelasi Sendok Besar, Gagang Wajan atau bahkan konstelasi Cangkul. Aduh, menurut saya pribadi nama Beruang Besar jauh lebih keren untuk disebut 😀

Continue reading

Satuan Jarak dalam “Penjelajahan Galaksi”

Space is big. You just won’t believe how vastly, hugely, mind-bogglingly big it is. I mean, you may think it’s a long way down the road to the chemist’s, but that’s just peanuts to space. (Douglas Adams, Hitchhiker’s Guide to The Galaxy)

Konsep dimensi sangat penting untuk diketahui dalam “penjelajahan galaksi” kita. Seberapa jauh jarak suatu objek angkasa dari tempat kita berdiri saat ini atau seberapa jauh suatu objek angkasa terhadap objek angkasa yang lainnya adalah salah satu pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang akan sering kita ajukan. Sebenarnya apa saja ukuran yang digunakan para ahli astronomi? Ada tiga ukuran utama yang digunakan oleh para ahli astronomi untuk menerangkan konsep pemahaman tentang jarak di semesta yang luasnya tak terbatas ini, yakni:

1. Astronomical Unit (AU)
AU adalah jarak rata-rata bumi dengan matahari yakni 150 juta kilometer. Sistem AU ini digunakan pada pengukuran jarak-jarak benda langit di sistem matahari (Solar System) kita saja, misalnya menghitung jarak berbagai planet dari matahari ataupun menghitung jarak antar planet dengan planet, atau planet dengan asteroid.

Untuk kita ketahui bersama, galaksi kita, Bimasakti / Milky Way tersusun atas banyak sistem matahari (solar system), salah satunya adalah sistem matahari kita (matahari-merkurius-venus-bumi dan seterusnya hingga planet terluar).