Redup-Terang dan Variasi Warna Bintang

“Eh liat tuh, bintang yang di sebelah selatan itu terang banget ya. Beda banget ama bintang yang di sebelah kanannya, yang redup itu. Terus, bintang yang di sebelah timur itu beda banget ya warnanya. Agak kekuning-kuningan. Padahal yang lain warnanya biru. Ada bintang Golkar diimpit ama bintangnya Demokrat. Ha3. Khas sekali percakapan ala orang Indonesia. Pakai bawa-bawa partai segala”. ๐Ÿ˜€

SKALA MAGNITUDO BINTANG-BINTANG

Ketika ahli astronomi membicarakan tingkat gelap-terangnya nyala suatu bintang bila dibandingkan dengan bintang yang lainnya, mereka sebenarnya berbicara tentang magnitudo, sebuah ukuran brightness objek-objek angkasa. Seberapa terang suatu objek tampak di mata pengamat sangat tergantung pada kekuatan nyala objek tersebut dan jarak objek dari mata pengamat. Para ahli astronomi membagi nilai magnitudo ini menjadi dua kategori ukuran, yakni magnitudo absolut (absolute magnitude / M), yang merupakan ukuran seberapa banyak cahaya yang dikeluarkan objek angksa dan magnitudo semu (apparent magnitude / m), yang merupakan ukuran seberapa terang objek angkasa tampak di mata pengamat.

Biar lebih gampang memahaminya, kita pakai analogi berikut. Kita pergi ke Toko Babah A Cong untuk membeli dua buah lampu 100 watt. Merknya sama. Pabriknya sama. Kekuatan nyalanya juga sama. Dengan kata lain, kedua lampu tersebut memiliki nilai magnitudo absolut (M) yang sama (100 watt). Kemudian kita lakukan percobaan berikut. Satu lampu kita taruh 100 meter di depan kita, sementara lampu yang lainnya kita taruh 1 kilometer di depan kita. Mana yang keliatan lebih terang di mata kita? Tentunya lampu yang 100 meter di depan kita yang kelihatan lebih terang. Lampu yang dekat dengan kita sebagai pengamat ini memiliki nilai magnitudo semu (m) yang lebih besar dibandingkan dengan nilai magnitudo semu lampu yang lebih jauh tadi.

Unik ya? Dua lampu dengan ukuran watt yang sama memiliki perbedaan gelap-terang yang mencolok ketika diletakkan pada jarak yang berbeda dari pengamat. Ukuran magnitudo semu (m) ini erat kaitannya dengan sense dan persepsi pengamat, dimana nilainya sangat KUALITATIF.

Skala magnitudo ini memiliki akar sejarah yang antik. Ahli astronomi Hipparchus mendefinisikan bintang paling terang di langit memiliki nilai magnitudo semu (m) sebesar 1 (first magnitude), sementara bintang paling redup yang masih bisa dilihat oleh mata memiliki nilai magnitudo semu (m) sebesar 6 (sixth magnitude). Pada abad ke-19, ahli astronomi Inggris Norman Pogson menyempurnakan skala magnitudo semu Hipparchus (Norman Pogson membuat nilai KUANTITATIF dari skala magnitudo semu), dimana ia mendefinisikan skala magnitudo semu sebagai skala logaritma dimana benda dengan nilai magnitudo semu (m) 1 akan lebih terang 100 kali dibandingkan benda dengan nilai magnitudo semu (m) 6. Titik baku dari ukuran magnitudo semu di jaman modern sekarang ini adalah bintang Vega, dimana objek angkasa yang lebih terang daripada Vega diberi nilai negatif, dan objek angkasa yang lebih redup daripada Vega diberi nilai positif.

Yang juga harus jadi perhatian kita adalah bahwa ukuran magnitudo (absolut dan semu) ini hanya dimiliki bintang-bintang, objek angkasa yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Planet-planet dan bulan / satelit planet tidak memiliki magnitudo, karena tidak bisa memancarkan cahaya sendiri dan hanya memantulkan cahaya dari matahari.

TIPE SPEKTRAL BINTANG-BINTANG

Bintang-bintang bisa memiliki warna yang berbeda-beda. Memang, kebanyakan bintang jika dilihat dengan mata “telanjang” terlihat berwarna putih. Hal ini dikarenakan oleh respon mata terhadap cahaya, dimana pada cahaya yang lemah (low light level), mata kita tidak sensitif terhadap cahaya. Yang kelihatan ya cuma warna yang paling ngejreng dan mencolok mata, yakni warna putih.

Cahaya dari bintang-bintang bisa dipisahkan dengan bantuan prisma yang dipasang pada teleskop. Dengan ini, kita bisa memperoleh informasi tentang intensitas cahaya relatif yang dipancarkan oleh bintang-bintang (disebut dengan istilah spectra). Nilai spectra ini erat kaitannya dengan nilai magnitudo absolut (M). Nilai magnitudo absolut (M) yang meningkat juga akan memperbesar nilai spectra bintang-bintang. Dari nilai spectra ini, kita bisa mengetahui informasi suhu permukaan bintang dan kehadiran berbagai variasi elemen pada bintang-bintang tersebut, seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

Untuk tolok ukur, matahari di solar system kita memiliki tipe spectral G, suhu permukaan sekitar 5500 derajat Kelvin dan berwarna kuning ๐Ÿ˜€

Makin menarik ya penjelajahan bintang dan galaksi kita malam ini. See you in the next articles. As usual, keep powering up your Cosmo! ๐Ÿ˜€
Advertisements

4 comments on “Redup-Terang dan Variasi Warna Bintang

  1. mantap bro.
    akhir-akhir ini makin produktif saja…

    tulisan yg menarik bro. apalagi pake analogi. jadi pengen nulis jg tentang astronomi tapi lagi tidak mood.

    keep up the good work. ๐Ÿ™‚

  2. nuwun bro. iya nih lg ada semangat buat nulis lg. Lg menggila ki. ha3.

    tempat favorit stargazingku diambil alih soalnya. trus cuaca langit jogja yo ngga bgitu bersahabat semingguan ini. awan2nya nutupi terus.

    nulis jadi pelarian deh critanya wkwk ๐Ÿ˜€

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s