Gordon Gekko: Green energy. Clean tech. That’s smart. That’s the next bubble.

Impresi film Wall Street: Money Never Sleeps yang saya tonton ulang beberapa malam yang lalu masih membekas di benak saya. Bagi yang udah pernah nonton, pastinya sependapat. Film yang berkisah tentang geliat kehidupan para pialang di Wall Street ini merupakan sekuel dari film berjudul sama tahun 1987. Agak sedikit lain dengan ulasan-ulasan tentang film ini di blog-blog lain, pada postingan kali ini saya tertarik untuk membicarakan konsep energi alternatif yang juga diangkat sebagai salah satu background story disini.

Saat kedatangan investor dari China, Churchill Schwartz, investment bank tempat Jacob Moore (Shia LaBeouf) bekerja kewalahan dan hampir kehilangan investor potensial, karena ternyata proposal investasi energi yang mereka tawarkan ditolak oleh pengusaha China tersebut. Jacob Moore pun bertindak cepat. Walaupun terkesan lancang & tidak meminta pendapat rekan-rekan setimnya, dia segera menawarkan proposal energi alternatif yang ia tekuni belakangan ini kepada investor China tersebut:

What about fusion? We happen to be working with a company right now. It’s got all the hardware in place. Started by the Department of Energy. They share R&D facilities with the University of California. It’s got a market cap right now of about a billion. No earnings.

The simple of it is, it’s using the intense energy of some 200 laser beams focused on a single target the size of a few grains of rice, filled with hydrogen fuel. So the idea being that when that target combusts, it produces more energy than it took in. All the tests they’ve done indicate that they can use this ignition process to turn simple seawater into energy. It’s called Ocean Thermal Energy Conversion. Using the reaction between hot water on the surface and cold water beneath to power the lasers. So what you wind up with is unlimited clean energy.

Menarik melihat sepak terjang Jacob Moore disini. Di film ini kita bisa melihat bahwa seorang wall street guy berusaha sekuat tenaga memperjuangkan idealismenya tentang energi alternatif Ocean Thermal Energy Conversion. Kamarnya dipenuhi oleh berbagai cetak biru dan maket-maket powerplant. Ia menyalurkan sebagian besar dana pribadi, uang hasil jerih payahnya di pasar saham Wall Street untuk membiayai pengembangan energi alternatif yang ia tekuni itu. Murni idealisme untuk menyiapkan terpenuhinya energi bagi generasi mendatang atau ada tercium bau uang disini?

Misalnya energi alternatif pilihannya ini berhasil, Jacob Moore adalah seorang pioner. Starter. Orang pertama yang bisa melejitkan “barang dagangan”-nya di pasar bisa memegang kendali. Ingat kah kita dengan air minum kemasan Aqua? Aqua adalah pioner. Air minum kemasan itu laris manis di pasaran. Peraturan yang muncul belakangan pun memberi payung hukum bahwa kompetitor-kompetitor Aqua, beraneka air minum kemasan yang bermunculan belakangan tidak boleh menjual harga barang-barangnya di bawah harga Aqua. Aqua yang punya nama beken & konsumen yang loyal terhadap produknya tentunya akan memenangkan “pertarungan” ini.

Disamping itu, remember guys, Jacob Moore is a Wall Street Guy 😀

Perkembangan konsep-konsep energi alternatif yang berkembang sekarang ini dilahirkan melalui perjalanan yang amat panjang. Laporan para ilmuwan pada tahun 1990 tentang Perubahan Iklim mendesak suatu kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim. Berbagai pakta pun diteken. Hasilnya adalah beberapa kesimpulan tentang pengembangan energi-energi alternatif (salah satunya seperti yang digadang-gadang oleh Jacob Moore di film Wall Street diatas) dan satu hal lain, yakni kredit karbon.

Dari majalah National Geographic Indonesia edisi Maret 2007 yang saya baca, kredit karbon adalah jual-beli sertifikat pengurangan emisi atau CER (Certified Emission Reduction). Jual beli? Yup. Melalui perdagangan karbon, negara-negara industri sebagai penyumbang terbesar emisi gas karbondioksida bisa membeli nilai karbon, sehingga “dosa-dosa lingkungan” negara-negara pembeli nilai karbon tersebut dianggap berkurang atau impas. Apakah memang sesederhana itu? Apakah semua bisa diselesaikan dengan uang? Kalo Gayus yang ditanya, pasti jawabannya nebeng iklan salah satu minuman suplemen: “M150-Bisa!” 😀

Kredit karbon kini menjadi komoditas bisnis dadakan. FIFA, federasi sepak bola dunia, membeli beberapa kredit karbon sehubungan dengan pelaksanaan piala Dunia 2006 lalu. Kelompok musik Rolling Stones dan beberapa band lainnya membeli kredit karbon sebagai kompensasi emisi gas rumah kaca yang mereka buang dalam tur-tur mereka. Disisi lain, Paramount, studio film Hollywood kenamaan juga membeli kredit karbon atas setiap emisi yang mereka keluarkan selama proses pembuatan film kontroversial tentang pemanasan global, An Inconvenient Truth (2006).

Ketika pakta-pakta pengembangan energi alternatif dan kepentingan ekonomi berpadu, apa hasilnya? Jawabnya: Pertemuan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark 😀

Adik perempuan saya beberapa tahun belakangan ini menjadi aktivis pasif Greenpeace. Pasif dalam arti ikut menyumbang pergerakan Greenpeace dengan berlangganan newsletter-nya. Dari newsletter terbaru yang saya baca, pertemuan di Kopenhagen dianggap gagal dari sisi durasi, kekacauan, kebingungan dan analisa final. Kepentingan politis masing-masing negara dalam menangani ketersediaan energi untuk diri mereka masing-masing mengacaukan kesempatan untuk menyelesaikan perbedaan dan menyetujui satu perjanjian mengikat demi menghindari bencana-bencana lanjutan akibat perubahan iklim. Maka wajar jika ada skeptisme disini. Energi alternatif dan perdagangan karbon yang bersinggungan dengan kepentingan  finansial dan pencarian profit memang seperti dua sisi koin yang tidak bisa ditiadakan satu sama lain.

Seperti yang diungkapkan Gordon Gekko (Michael Douglas) saat bertemu Jacob Moore di kereta bawah tanah. Jacob Moore mengungkapkan bahwa  teknologi energi yang ramah lingkungan sudah menjadi obsesinya.

I’ve been specializing more and more in clean tech. It’s sort of a passion now.”

Gordon Gekko membalas dengan berkata:

Green energy. Clean tech. That’s smart. That’s the next bubble (economy). What are you, some kind of energy freedom-fighter? So what about money, Jake? You like her? She lies there in bed at night with you, looking at you, one eye open. And she’s jealous. And if you don’t pay close attention, you wake up in the morning, and she might be gone forever. So marry it instead, right?”

Gordon Gekko pun melanjutkan ucapannya dengan kalimat yang menjadi inti film ini:

“Money, is a bitch that never sleeps.”

Masih dengan idealisme yang tidak padam, Jacob Moore mempertahankan pendapatnya:

“You know that fusion just might work. I know it sounds like Star Wars, but if it weren’t for crazy people who thought these crazy things (including this alternative energy), then where would we be in this world? Nowhere. They might just solve this thing. It could change the world.”

Sepertinya banyak insight yang bisa kita ambil dari film ini. 😀
Advertisements

4 comments on “Gordon Gekko: Green energy. Clean tech. That’s smart. That’s the next bubble.

  1. What about money, Jake? You like her?
    “Money, is a bitch that never sleeps.”

    wow, money is a woman ya. hehehe menarik metaforanya.
    Kira-kira kenapa ya mereka menganalogikan uang dengan wanita? 😀

    Oh ya, klo kamu mengutip Jacob Moore, aku juga ada kutipan dari Martin Helman. Dia salah satu inventor enkripsi modern di bidang kriptografi, tidak kalah saingan dengan NSA yang notabene punya budget milyaran dollar.

    Salah satu kutipan dia:

    Ralph, like us, was willing to be a fool. And the way to get to the top of the heap in terms of developing original research is to be a fool, because only fools keep trying. You have idea number 1,you get excited,and it flops.Then you have idea number 2,you get excited,and it flops.Then you have idea number 99, you get excited,and it flops. Only a fool would be excited by the 100th idea, but it might take 100 ideas before one really pays off. Unless you’re foolish enough to be continually excited, you won’t have the motivation, you won’t have the energy to carry it through. God rewards fools.

    Yah itulah orang-orang gila (gila dan bodoh beda-beda tipis ya). hehehe

    • wohoho. udah dikomen ma bro ajooy. mungkin karena sifat wanita & uang sedikit banyak ada benang merahnya?
      “she’s jealous. And if you don’t pay close attention, you wake up in the morning, and she might be gone forever.”

      ha3. bukan bias gender loh. kan katanya Gordon Gekko. Boleh sepakat, boleh juga beda pendapat bro 🙂

      nuwun bro kutipane. aq suka terutama yang ini “And the way to get to the top of the heap in terms of developing original research is to be a fool, because only fools keep trying.” syukurlah. klo dipikir2 aq termasuk golongan orang “bodoh” ky yg Martin Helman bilang. *bukan nyombong loh ya,
      cm membumi doank* ha3. 🙂

      klo km gimana bro? termasuk golongan org “bodoh” jg? seklub kita wkwkwkwk.

  2. @herfina: hasil bertapa 4 hari 4 malem ini tulisannya. wkwk.
    keren ya? kaya orangnya donk 😀 wkwk *malah pamer ya sy? wkwk. minta dilindes pake motor trail nih ha3*

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s