(500) Days of Summer

Si A bilang (500) Days of Summer itu keren. Si B bilang (500) Days of Summer itu mengharukan. Si C bilang (500) Days of Summer itu dibuat berdasarkan kisah pribadinya pas tinggal di Hollywood dulu (Pede banget! Minta dilempar asbak nih Si C :D). Si D bilang, “Cinta akang cuma buat Nyai”. Lah, ada Kabayan nyasar πŸ˜€

Okeh deh. Ampun. Semua pada ngomongin (500) Days of Summer. Langganan paket Smartfren yang paling mahal (Huuu! Sok kaya) trus download ini film pake modem kesayangan.

Tom Hansen bertemu dengan Summer Finn. Pemikiran mereka berdua amat bertolak belakang. Tom percaya bahwa cinta sejati itu ada. Ia percaya hal itu lewat video klip sebuah band Inggris yang ia tonton sewaktu kecil dan sangat membekas di benaknya. Di lain kutub, Summer tidak percaya tentang adanya cinta sejati, karena melihat percekcokan yang diakhiri perceraian kedua orang tuanya. Ketertarikan kedua insan yang berbeda sudut pandang tentang cinta inilah yang menjadi grand theme dari film (500) Days of Summer ini.

It’s about boy meet girl. Fragmen yang telah kita akrabi bersama. Memulai hubungan dengan lawan jenis, apalagi jika tidak bertepuk sebelah tangan, terasa indah. Namun, bila suatu saat hubungan itu harus berakhir, yang tersisa cuma duka yang seringkali berkepanjangan. Ehm..Ehm… Gitu doank? Yah ceritanya ngga jauh beda ama sinetron donk. Sabar. Sabar. Ini baru mau diketik. Sana masak mie dulu. Pas mienya udah mateng, balik lagi ke postingan ini ya. Pasti udah selesai diketik tuh πŸ˜€

Detil ceritanya ngga akan saya ceritain di sini. Haram banget hukumnya jadi spoiler. Kan kasian banget yang belum nonton. Hanya saja, wajib diwaspadai, endingnya akan sedikit mengagetkan dan mendalam. Perhatikan baik-baik ucapan Summer di akhir cerita (scene sewaktu ia dan Tom duduk di bangku taman sambil memandangi kota di kejauhan). Damn, it’s brilliant. Tom sepertinya melihat cerminan dirinya pada Summer sewaktu kata-kata itu terucap dari mulut gadis yang disayanginya itu.

Cerita yang menye-menye? Nggak lah. Cengeng? Nope. Sama sekali ngga. Film ini memiliki ending yang kuat. Gaya penceritaannya pun maju-mundur, karena setting-nya 500 hari. So, perhatikan baik-baik tanggalan yang berjalan. Gaya penceritaan ini bisa dibilang keren. Beberapa quotes yang menyentil kuping juga menghiasi beberapa adegan film ini. Misalnya:

You know, we’re adults. We know how we feel. We don’t need to put labels on it. I mean, ”boyfriend” or ”girlfriend”. All that stuff is..Β  It’s really juvenile.

Atau yang ini:

I woke up one morning and I just knew. I Knew I was never sure of with you…

Mari merenung di malam hari. That’s life. Sambil ngedengerin OST (500) Days of Summer, pastinya. Rekomendasi: Lagunya Regina Spektor yang judulnya “Us” & lagunya Carla Bruni, “Quequ’un M’a Dit”, sang ibu negara Perancis, dengan suara serak-serak merdu yang diiringi petikan gitarnya.Β  Beautiful voice…..

Advertisements

15 comments on “(500) Days of Summer

  1. @ina: loh kok cewek galau – cowok labil sih? Menurutku dalem loh maknanya. He3.

    Misalnya statement ini: “I woke up one morning and I just knew. I knew I was never sure of with you…”

    Seperti tokoh di film itu, terkadang kita mutusin sesuatu berdasarkan intuisi. Datangnya tiba2 & dalam kecepatan tinggi. Flash. Zap. Langsung.

    Pertanyaannya, apa itu tepat? Mending pakai intuisi ato pikiran rasional?

    Einstein pernah bilang “the intuitive mind is a sacred gift, and the rational mind is a faithful servant. We have created a society that honors the servant and has forgotten the gift”.

    Anyway, just my thought πŸ˜€

  2. hah apa-apaan ini : “I woke up one morning and I just knew. I knew I was never sure of with you…”

    bikin ikut merenung juga. Ahhh… is she the one or not? I was never sure….

  3. Aku udah nontoooon, setaon yang lalu!!! Telat amat sih, Mas ;p
    Btw buat aku film ini jg daleeem.. Sedih banget, why two people cant be together if they really love each other? I just dont understand!!

  4. And btw, menurut mas-mas, intuisi bisa dipermainkan sama perasaan, ga? Maksudku.. sok intuitif tapi sebenernya intuisi yg di”drive” sama perasaan, gt?

  5. @fina: Wkwk. Iya ini film udah lama. Penasaran pengen nonton setelah banyak yang ngobrolin.

    Setauku intuisi seseorang itu dibangun dari experience dia selama dia menjalani hidup. Intuisi orang berumur 14 tahun (14 tahun life experience) tentunya beda ama intuisi orang berumur 27 tahun (Btw ini umur sapa ya 27? Wkwkwk :D).

    Di “BLINK”, bukunya Malcolm Gladwell, aq pernah baca kalo kemampuan ini disebut snap judgement ato thin slicing, dimana ada beberapa detik singkat yang menentukan ketika kita mengamati sesuatu dan membuat keputusan. Kemampuan “berpikir tanpa berpikir” yang muncul dari “komputer internal” (kemampuan bawah sadar) yang dibangun dari kumpulan aktivitas & pengalaman semasa hidup.

    Ternyata keputusan yang tepat ngga selalu datang dr pemrosesan data yang lama. Dipakai ama pakar seni untuk mengenali barang antik, ahli cicip makanan, tester cola & pepsi. It worked. Plus, dipakai orang bwt mutusin pacarnya. Kaya kasus Tom & Summer πŸ˜€

    Tapi ada sisi bahaya dari snap judgment ini, terutama kalo intuisinya belum tajem betul & bikin keputusan yg bakal disesali seumur idup. Uhuuukkk…uhuukkk..:(

    Kaya yang fina bilang diatas, intuisi yang didrive perasaan. Kayanya emang bisa banget dan naga2nya itu berbahaya. Wkwkwk. Sok tau bgt ya aq. Intuisiku juga belum tajem nih. Tadi malem aja masih salah nebak skor bola. πŸ˜€

    @ajooy & ina: mas ajooy, mas ina (ups mbak dink. Wkwkwk. Abis gravatarnya mata doank sih :)), gimana pendapat kalian?

  6. Hai Herfina dan Gemabuluk. πŸ™‚

    Intuisi yang dipermainkan sama perasaan? Hmm… aku belum dapat intuisinya untuk pertanyaan ini…. nanti ya kalau aku udah dapet, aku kasih tahu jawabannya. he3. πŸ™‚ just kidding.

    Setahuku juga, intuisi dan perasaan emang bisa tercampur. Tapi menurutku intuisi bukan perasaan as in I feel happy or sad or angry. Itu adalah perasaan kita saat tertentu.

    Tetapi intuisi bisa muncul dari perasaan as in I feel it doesn’t just seem right.

    He3. Dari dua kasus itu, aku mengintepretasikan perasaan yang dimaksud adalah feeling jika dibahasakan inggris.

    Yups, intuisi itu seperti apa yang Gema katakan. Dia dibangun dari pengalaman, pemikiran sebelumnya, dan lain-lain (mungkin juga pembawaan dari lahir). Intuisi bisa dibilang bagian dari diri kita.

    Intuisi itu penting, tetapi sering dilupakan untuk dikembangkan. Misalnya konsep-konsep (teori) yang dipelajari di sekolah. Kebanyakan mungkin melupakan bagaimana mengembangkan intuisi tentang konsep tersebut. Sehingga kita tidak dapat intuisinya. Kita hanya menggunakan konsep itu saat di sekolah atau ujian saja. Oh ya, ini sekolah… gunakan konsep (school model) yang diajarkan di sekolah untuk menjawab ujian ini. Setelah lepas dari sekolah, di kehidupan sehari-sehari, kita kembali ke intuitive model kita. Dan karena intuitive model tidak dikembangkan, ya konsep-konsep di sekolah bagi kita tidak relevan. Akhirnya yang terjadi, kita merasa teori tidak ada gunanya di praktek. He3. Pengalaman pribadi ini sebenarnya. Tetapi sekarang lumayan sudah sadar-sadar dikit untuk mengembangkan intuisinya. πŸ™‚

  7. @ Gema n Ajooy:
    Wuihh, begitu ya ceritanya si Neng intuisi ini. Tapi intuisi itu apa selalu berupa snap judgement? Nah kalo dicernanya pelan-pelan dan judgementnya terbangun setelah observasi sekian jam ato hari ato begitulah, itu bukan intuisi ya?
    Kemampuan snap judgementku terus terang jg belom terasah. Tapi kalo yg pelan-pelan model siput gt biasanya jitu loh hehe, bangga ;p

    Btw kalian berdua ini seiya sekata, jadi curiga hahaha.. You two are my favorites dah!! Keep writing, keep spreading the wisdom yak..

  8. klo dicernanya pelan2 dan keputusan dibuat setelah observasi sekian jam ato hari, menurutku sih (IMHO) lebih ke rational drpd intuitive, krn ngelibatin proses thinking, rethinking, rethinking dst.

    mungkin, (IMHO lg wkwk) intuitif itu kaya kita pas pakai MS Word 2007 pertama kali. sebelumnya bertahun2 kita pakai MS Word 2003. Penamaan & letak menunya pasti berubah. tapi dalam wktu yg ngga lama, karena pakai intuisi, kita bs nyari menu yg mau kita pakai.

    “Ah, menu filenya skitar2 sini”, atau “klo mau edit margin kynya di sub menu ini deh”, atau “pasti page preference buat ngatur ukuran kertas itu ada di sub menu yg ini”.

    dan it worked. dalam waktu singkat kita bisa gape ngetik dgn software terbaru ini. berarti softwarenya intuitif. *thx u bill gates & microsoft team* πŸ˜€

    btw fin, aq nonton ulang lg nih (500) day of summernya. akhirnya aq (makin) tau & bisa ngerti knp Tom ngga marah lagi pas Summer bikin keputusan di akhir film itu. ha3.

    btw lg, gara2 film ini, aq jd kecanduan The Smiths, salah satu band pengisi OST nya.

  9. mmhh.. begitu ya.. jadi proses berpikir panjang dan lama ga boleh ada dalam kamus per’intuisi’an?

    n btw, kenapa coba si Tom ga marah lagi?

    aku suka lagunya regina spector yg “us” sama temper trap yang “sweet disposition” (vokalisnya org Indo looohh, percaya ga?)

  10. Ha3. just my opinion. pake rational ato intuitive sama2 bagus drpd pake klenik ato ngitung kancing baju. πŸ˜€

    Oia lanjut ke main topic. Pada suatu momen, Tom mulai ragu ama kepercayaannya ttg cinta sejati. Dia bilang: “Uh, you know, destiny, and soul mates, and true love, and all that childhood fairy tale nonsense. You were right”.

    Eh ngga disangka, terakhir2 justru Summer yg mulai percaya klo kepercayaan Tom itu ada benernya. Summer yg semula cuma mau jalan & have fun tanpa komitmen, tiba2 jadi sependapat bahwa true love & fate itu ada.

    Summer bilang: ” I was sitting in a deli and reading Dorian Gray and… a guy comes up to me… and asked me about it, and… now he’s my husband. You’re right Tom. So, what if I’d gone to the movies? What if I had gone somewhere else for lunch? What if I’d gotten there 10 minutes later? It was meant to be”.

    Tom pun akhirnya luluh. Perempuan yg dia sayangi akhirnya punya belief yang sama, walaupun bukan Tom yang jadi pilihan Summer. Kurang lebih gitu kali ya? πŸ˜€

    Oia kabarnya itu org indo yg lama tinggal di ostrali gitu ya Fin? bagus lagunya. penutup ending film yg pas pas bgt πŸ˜€

  11. Menarik juga apa yang Summer bilang saat dia berubah keyakinan.

    Apa yang dikatakan Summer sepertinya juga tidak me-refute kalau random, seperti yang Tom bilang tentang cinta sejati.

    So, what if I’d gone to the movies? What if I had gone somewhere else for lunch? What if I’d gotten there 10 minutes later?

    …. Well Summer, in that case, maybe you would end up with another guy. πŸ™‚

    Dan Summer akan masih bilang: It was meant to be.

    Itu sama saja kalau Summer tidak bilang apa-apa. Tidak ada bedanya antara dia bilang dan tidak bilang. Dia hanya berubah keyakinan. Just that.

    Btw, aku belum nonton filmnya. Menarik juga untuk belajar tentang cinta nih. Masih nol besar soalnya. he3. Nanti deh. πŸ™‚

    • ha3. nek summer ngga bilang apa2, gimana cara directornya menyampaikan pesan ke penonton bro?
      it’s a movie. movie contain dialogs. wajar donk klo dialog itu dibuat. πŸ˜€

  12. ditonton dulu aja bro filmnya. biar ngga misleading.
    masak mo diskusi film tp filmnya aja belum ditonton. wkwk.
    momen2nya ngga bisa didiskusiin secara literally aja.

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s