9 Summers 10 Autumns: Aku tidak bisa memilih masa kecilku

Kita semua tahu bahwa orang yang sukses berasal dari bibit yang bagus. Tetapi, apakah kita cukup tahu banyak tentang sinar matahari yang menghangatkan bibit-bibit tersebut? Tanah yang menjadi tempat tinggal akar-akarnya? Juga para kelinci serta tukang kayu yang bisa mereka hindari, sehingga pada akhirnya bibit-bibit itu berhasil tumbuh menjadi pohon-pohon perkasa?

Yap. Ngga bosen-bosennya saya mengutip tulisan dari Malcolm Gladwell tersebut. Menarik, karena buku terbaru yang saya beli dan baca juga memberi insight yang tidak kalah ‘WOW!” dengan Outliers dari Gladwell. Buku itu berjudul 9 Summers 10 Autumns karangan Iwan Setyawan.

Insight buku 9 Summers 10 Autumns ini adalah bahwa segala macam keputusan yang kita rencanakan untuk kita buat, segala jalan yang kita rancang untuk kita tempuh, segala pola pikir yang membentuk karakter kita sekarang ini merupakan hasil “perdamaian” pikiran kita dengan masa lalu yang telah kita lalui dan masa depan yang hendak kita capai.

Hasil yang kita capai sekarang ini tidak lepas dari campur tangan orang-orang sekitar kita maupun orang-orang yang kita jadikan idola (role model) , yang telah “menyentuh” dan “mendorong” kita dengan caranya masing-masing. Pembuka jalan. Penuntun langkah. Penyala lilin. Sang penyejuk. Keluarga baru. Sahabat jiwa. Nahkoda besar. Pahlawan dan hati yang terus berlayar bersama kita.

Perjumpaan saya dengan Iwan Setyawan pertama kali adalah lewat tabung katoda. Bahasa gaulnya: Televisi. Maklum tipi saya jadul, masih yang pake tabung katoda, belum tipi layar datar yang slim dan high-definition. Gapapa, yang penting bisa nangkep siaran Kick Andy. Di acara Kick Andy beberapa minggu yang lalu, saya terpukau dengan penuturan mas Iwan.

Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan, dan cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya.

Seorang putra sopir angkot yang akhirnya berkilau di New York dengan posisi terakhir sebagai Director dari Internal Client Management Nielsen Consumer Research ini (Saya: KAGUMMM! WALL STREET GUY!) pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia, meninggalkan pekerjaan lamanya di New York karena ingin berbagi pengalaman, touching people dan berbagi inspirasi di tanah air (Saya: KAGUMMM PANGKAT TIGA!)

Jika masa kini adalah tantangan dan masa depan adalah kegelapan misteri, maka apa kekayaan terindah kita bila bukan masa lalu, meskipun kegetiran masih tergores disana?

Saya yakin dearest reader sekalian pernah berdamai dengan kejadian di masa lalu. Seperti yang pernah saya tulis di postingan terdahulu, akan ada kilatan-kilatan dalam benak kita yang berteriak:

Ini yang saya inginkan! Itu yang saya impikan!

Atau mungkin menjerit:

That’s enough ! Saya muak dengan kondisi saya yang sekarang ini! Saya bersumpah, sejak hari ini saya akan…….. (silakan diisi dengan jeritan hati masing-masing)

Saya yakin dearest reader sekalian punya titik-titik balik dalam hidup. Titik-titik percabangan hidup, dimana setelah keputusan dibuat untuk menempuh cabang yang satu, cabang yang lainnya terpaksa harus diabaikan. Hidup pun tidak akan pernah sama lagi.

Iwan Setyawan pun punya titik balik dalam hidupnya. Berikut kisahnya:

Aku tidak bisa memilih masa kecilku

Dunia akan menjadi tempat bermain yang berbeda ketika dewasa dan kenangan masa kecil seperti inilah yang bisa memberikan kesejukan kelak, renungku disana diantara tawa lepas mereka. Beberapa orangtua memanggil anaknya, mengusap keringat mereka, memberikan minum, snack, atau pelukan.

Aku tidak bisa memilih masa kecilku.

Mungkin masa kecilku tak seindah dan selepas mereka, tapi kehangatan di bawah rumah kecilku telah menyelamatkanku. Jalan hidupku mungkin berbeda, I would have been so lost, tanpa kesederhanaan Ibu, tanpa perjuangan keras Bapak, tanpa cinta yang hangat dari saudara-saudaraku. Memori masa kecil membuatku bijak dalam mengenal diriku sekarang.

Aku akan membagikan satu kenangan yang menjadi pagar hidupku.

Malam itu, sehabis ayahku pulang kerja, pulang dari menarik angkotnya, something happened. Ia capek dan mungkin putus asa karena tidak mendapatkan uang cukup hari itu. Mungkin juga karena angkot tuanya harus masuk bengkel lagi selama setengah hari. Sementara kebutuhan minggu itu sudah menumpuk. Kami harus makan, bayar listrik dan uang sekolah. Bapak melemparkan emosinya ke Ibu. Ini bukanlah pertama kalinya mereka beradu pendapat , tapi malam itu things were so bad.

Aku di kamar bersama saudara-saudaraku. Menutup pintunya rapat-rapat. Diam. Tegang. Setelah seperempat jam kemudian, ketika tak kudengar adu mulut lagi, aku mulai keluar kamar. Kudapati Ibu duduk di lantai, di pojok dapur, tersedu. She held me tight. Dia kemudian mengajakku berjalan keluar rumah. Kami diam sepanjang jalan. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Melihat airmata Ibu jatuh saat itu, I told myself, I will not let this happen again. I want to make her a happy mother, a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much. Dari sinilah aku mulai melihat bahwa hidup ini tidak hijau lagi.

Aku tidak bisa memilih masa kecilku. Kenangan ini, meskipun perih, telah menyelamatkan hidupku.

Mas Iwan telah berdamai dengan masa lalunya, yang meskipun getir, telah menyelamatkannya. Yang meskipun getir, merupakan kekayaan terindahnya. Semoga kita semua juga demikian.
Advertisements

2 comments on “9 Summers 10 Autumns: Aku tidak bisa memilih masa kecilku

  1. Gema.. Thx for sharing this! I have a not so good childhood too, and now am still struggling to come to term, to have peace with it.. I knew it since long ago, that I cannot choose this kind of things. But learning to come to term with those things are just so difficult..

    • Ha3. Berarti fina udah di-touch ama mas Iwan tuh. 😀
      Aq cuma meneruskan insight-nya aja kok 😀

      Semoga ke depannya kita semua bisa menembus batas ketakutan dan masa lalu kita.
      Kita pasti mampu. Because we’re not alone..

      Keluarga bukan sekedar sekumpulan orang yang memiliki pertalian darah.
      Masa lalu bukan cuma waktu yang udah lewat.

      They’re our treasure 😀

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s