Kayu Bakar & Laptop

Feelin’ exhausted. Mungkin karena jadwal yang lumayan penuh. Mungkin karena ketakutan saya terhadap ketertinggalan. Mungkin karena merasa insecure terhadap kehidupan. Mungkin karena teringat senyum dearest person from the past, ato mungkin juga karena interaksi dengan beragam karakter manusia. Celengan energi saya abis. Ada yang mau nyumbang, ngisi ulang?

Akhirnya? Buku selalu jadi pelarian yang paling mujarab. Ehmm, sebenernya senyum perempuan yang jadi pelarian paling mujarab. Buku, bolehlah dibilang the second closest πŸ˜€

Kisah ini bikin saya re-energized lagi. Ada seorang anak yatim piatu yang bernama Ninomiya Sontoku. Keadaannya yang tanpa penopang ini mengharuskan ia tinggal bersama pamannya yang bawel dan galak. Ninomiya diharuskan membantu pamannya mengurusi ladang. Sepanjang waktu.

Meskipun kelelahan, Ninomiya selalu begadang tiap malam untuk membaca teks-teks Konfusius. Pamannya sering marah-marah, karena Ninomiya dianggap memboroskan minyak untuk lampunya.

Ninomiya adalah petani yang ulet dan terampil. Setiap jengkal lahan kosong yang tidak subur ia beli sedikit demi sedikit. Dengan tekun, digemburkannya tanah tersebut, diairi dan ditanami dengan berbagai sayuran. Pada akhirnya, setelah beberapa tahun, ia berhasil hidup mandiri, terpisah dengan pamannya dan pergi ke tanah asal ayahnya untuk bekerja dan belajar.

Yang menarik adalah patung Ninomiya yang selalu digambarkan sebagai seorang anak muda yang berjalan memanggul kayu bakar di punggungnya sambil membaca buku. Patung-patungnya masih bisa dijumpai di halaman-halaman sekolah di Jepang.

Okeh. Saya ngga bakal ngeluh lagi klo harus ngebawa laptop yang beratnya cuma 2 kg di ransel. Manggul kayu bakar? Ngga kebayang πŸ˜€

Bau buku apek. Bau yang ngangenin. Banget. Dua minggu terakhir jadwal lecture lumayan padat. Baru sore tadi saya sempet nyatronin university library. Gosh! Senengnya bisa kembali ke sini. I’m just a nerd, after allΒ πŸ˜€

Advertisements

6 comments on “Kayu Bakar & Laptop

    • wkwk. iya e fin. skul maning.
      tapi ngga kaya fina yg overseas, aq cm lokal. balik ke almamater.
      tapi lumayan ada anak2 south east asia, berasa skul di luar.
      walopun kadang klo speak englishnya mentok, kita cuma nyengir-nyengir πŸ˜€

Mau komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s