How To Survive Your PhD (or Master’s Degree)

Jason Karp

EPILOG

(By Jason Karp, received his PhD in exercise physiology after 7 years of doctoral, during which he learn everything you shouldn’t do if you want to have a PhD in 4 years)

Being smart is just one part – maybe even a small one at that – of earning a PhD degree. The larger, more important part is making the right choices, being persistent and understanding how to work the system and the process.

I’ve met many people with master’s degree or bachelor’s degree in my discipline who act as if they have PhDs. They think they have tons of knowledge. They go around referring to themselves as physiologist. Sometimes, if they can, they cite the literature, thinking that impresses others.

But as I learned over the 7 years while going through the process, there is a huge difference between a master’s degree and a PhD. This difference is definitely larger than between a bachelor’s degree and a master’s degree. There’s the obvious time difference (takes 2 year or more to obtain master’s degree and 4 years or more to obtain a PhD), but time is only the minor difference. There is a large transformation that takes place over the time between your master’s degree and your PhD. You go from reading the research of others to being one of the researchers yourself. You go from reading the works of other scholars to being one of the scholars whose work is read. You go from reading the novels of others to writing your own. You go from being on the outside looking in to being on the side looking out. You go from watching the poker game to sitting at the table with your own set of chips.

Despite all the stress, frustation and anxiety that accompanies the pursuit of this degree, that’s pretty darn cool. If we knew what we’re doing, it would not be called research, would it?

 

Venusian 101

Bukan, saya bukan mo ngomongin Physical Geology 101. Bukan juga tentang Geochemistry 101 atau Exploration Geophysics 101. Yang mau saya omongin adalah Venusian 101. Kuliah pengantar tentang bahasa Venus. Bahasa hati para wanita. Asli, susah banget. Diulang berapa semester pun saya masih dapet D minus saking rumitnya (-_-)…

Untuk belajar Venusian 101, saya udah ngumpulin beragam text book.

Mulai dari “Energy Today: Coal, Oil, Natural Gas and Girls“, “Heart’s Tectonic in This Dynamic Earth“, “Atlas of  Romance-forming Relationship Under The Microscope“, sampe “Geological Interpretation of Well Love.

Hasilnya? Tetep, saya masih ngga ngerti wanita dan isi hatinya. Kayanya taun depan mesti ngulang matakuliah ini lagi (-_-)….

Pohon Ek dan Kesuksesan

Photo Courtesy: From this Website

Dengan nada hiperbolis (dan sedikit memelas), seorang (bakal calon) penyanyi di suatu kontes pencarian bakat menyanyi di salah satu stasiun televisi ibukota mengatakan bahwa sudah tiga tahun ini ia malang melintang tak kenal lelah manggung dari satu kafe ke kafe lainnya.

“Saya sedikit demi sedikit mencoba meraih kesuksesan. Saya berjuang dengan darah (?), airmata dan kekuatan saya sendiri, mencoba merintis sukses dari nol. Saya layak untuk melanjutkan perjuangan saya di babak berikutnya”.

Karena style menyanyi dan penguasaan panggungnya bisa dibilang bagus, para juri pun memberikan kesempatan. Si peserta lolos ke babak berikutnya.

Masih ada kaitannya dengan kejadian diatas. Para ahli biologi seringkali membicarakan tentang “ekologi” sebuah organisme. Contohnya, pohon Ek tertinggi di hutan menjadi pohon yang tertinggi bukan karena ia tumbuh dari biji pohon yang paling gigih; ia menjadi pohon tertinggi karena tidak ada pepohonan lain yang menghalangi sinar sang surya, tanah di sekelilingnya dalam dan subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya sewaktu masih kecil dan tidak ada tukang kayu yang menebangnya sebelum ia tumbuh dewasa.

Continue reading

Broken Windows – Epidemi Penyebaran Kejahatan

Photo Courtesy: From this site.

Saya miris ngeliat kondisi bagian depan sebuah toko kelontong. Toko itu ada di dekat (ngga bersebelahan langsung sih) dengan tukang sate Madura favorit saya, jadi kalo pas beli sate, mau ngga mau mata saya memperhatikan kondisi toko itu.

Toko kelontong dan vandalisme anak-anak jalanan

Toko itu buka dari pagi sampai sekitar jam 8 malem. Setelah toko itu tutup, entah dari mana, bergerombollah anak-anak jalanan ngumpul di bagian teras toko. Memprihatinkan. Coretan hasil vandalisme anak-anak jalanan makin hari makin banyak aja. Bagian teras itu juga sering dipake ama anak-anak jalanan untuk tidur-tiduran. Yang paling menyebalkan adalah terkadang tercium aroma pesing. Bener-bener ngga tau aturan.

Pemilik toko sepertinya nggak memberi respon berupa tindakan tegas terhadap aktivitas anak jalanan di teras tokonya. Sangat disayangkan. Jika diibaratkan, kondisi toko diatas sama dengan analogi sebuah jendela yang pecah dari sebuah rumah.

Continue reading